SOLO, AYOJAKARTA.COM -- Bagi sebagian masyarakat, nama Didi Kempot sudah tak asing lagi di telinga penikmat lagu campursari.
Penyanyi kelahiran Surakarta, 31 Desember 1966 ini dikenal khas dengan lagu-lagunya yang menyayat hati.
Didi lantas dijuluki: Godfather of Broken Heart (bahasa Jawa: Bapak Loro Ati Nasional; Bapak Patah Hati Nasional).
Julukan itu tercetus saat Didi Kempot tampil di acara Bakdan Ing Balekambang di Taman Balekambang Solo, 9 Juni 2019. Kemudian, gelar tersebut disahkan dalam Musyawarah Nasional Pengukuhan Awal Solo Sad Bois Club, di Rumah Blogger Indonesia,15 Juni 2019.
Sebenarnya titel The Godfather sebelumnya pernah diberikan kepada penyanyi Amerika Serikat, James Brown, pada 1973. Seperti dilansir Wikipedia, dia dijuluki The Godfather of Soul. Julukan itu diberikan karena Brown mampu mengaduk emosi pendengar lewat lagunya yang menjadi soundtrack Slaughter's Big Rip-Off.
Secara tidak langsung, Didi Kempot disamakan dengan James Brown karena piawai mengaduk emosi pendengar lewat alunan lagu yang menyayat hati.
Kesuksesan pria yang bernama asli Dionisius Prasetyo tersebut tentunya tak datang begitu saja. Ia meraih impiannya menjadi musisi terkenal dengan tekad kuat dalam waktu yang cukup panjang.
Nama Didi pertama kali dikenal setelah merilis album perdana, dengan single andalan “Stasiun Balapan” (1999). Sedangkan album populer lainnya adalah Ketaman Asmoro (2016), Kasmaran (2016), Super Hits Campursari (2016), Kolaborasoe (2014) dan Campursari Dangdut Koplo (2017).
Penulis lagu-lagu ambyar ini lahir dari keluarga seniman.
Sang ayah Ranto Edi Gudel merupakan pemain ketropak dan sang ibu, Umiyati Siti Nurjanah adalah penyanyi tradisional.
Sedangkan sang kakak, Mamiek Prakoso adalah pelawak.
Dirinya tidak menamatkan bangku SMA karena ingat perkataan sang ayah, seniman tidak memerlukan sekolah tinggi.
Berawal dari pengamen
Dilansir Solopos.com melalui saluran Youtube Hook Space atau Ruang Ngibul, Rabu (4/9/2019), Didi Kempot memulai kariernya pada 1984 sebagai pengamen.
Bermodalkan ukulele dan gendang, dia mulai mengamen di kota kelahirannya Solo, Jawa Tengah, selama tiga tahun (1984—1986).
Setelah menjalani kehidupannya sebagai pengamen di Solo, Didi Kempot mengadu nasib ke Yogyakarta.
Didi Kempot menjadikan Malioboro sebagai tempat unjuk kebolehan. Selama itu, dia menyanyikan lagu keroncong dangdut (congdut) yang kemudian dikenal masyarakat dengan musik campursari.
Pada 1988 penyanyi campursari asal Solo tersebut mulai menginjakkan kaki di Jakarta. Didi Kempot kerap berkumpul dan mengamen bersama teman-temannya di daerah Slipi, Palmerah, Cakung, maupun Senen. Nah, saat inilah julukan Kempot yang merupakan kependekan dari kelompok pengamen trotoar terbentuk.
Sembari mengamen di Jakarta, Didi Kempot dan temannya mencoba rekaman. Kemudian, mereka menitipkan kaset rekaman ke beberapa studio musik di Jakarta. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya mereka berhasil menarik perhatian label Musica Studio. Tepat pada 1989, Didi kempot mulai meluncurkan album pertamanya. Salah satu lagu andalan di album tersebut adalah Cidro.
Lagu Cidro diangkat dari kisah asmara Didi Kempot yang gagal. Jalinan asmara yang ia jalani bersama kekasih tidak disetujui oleh orang tua wanita tersebut.
Itulah yang membuat lagu Cidro begitu menyentuh hingga membuat pendengar terbawa perasaan. Sejak saat itulah Didi Kempot mulai sering menulis lagi bertema patah hati.
Didi Kempot semakin melebarkan sayapnya hingga ke luar negeri. Ia pertama kali tampil di Suriname, Amerika Selatan pada tahun 1993. Lagu Cidro yang dibawakan sukses meningkatkan pamornya sebagai musisi.
Setelah Suriname, Didi Kempot lanjut menginjakkan kakinya di Benua Eropa. Pada 1996, ia mulai menggarap dan merekam lagu berjudul Layang Kangen di Rotterdam, Belanda.
Kemudian, Didi Kempot pulang ke Indonesia pada 1998 untuk memulai kembali profesinya sebagai musisi. Tak lama setelah pulang kampung, pada era reformasi, 1999, dia merilis album perdana bertajuk Stasiun Balapan.
Kembalinya Didi Kempot ke Indonesia ternyata membuat kariernya makin moncer. Hal itu dibuktikan dengan keluarnya lagu-lagu baru pada awal 2000-an. Seperti dilansir Wikipedia, beberapa lagunya adalah Plong (2000), Ketaman Asmoro (2001), Poko’e Melu (2002), Cucak Rowo (2003), Jambu Alas (2004), dan Ono Opo (2005).
Nama Didi Kempot kembali meroket setelah mengeluarkan lagu Kalung Emas pada 2013 lalu. Kemudian pada 2016, dia mengeluarkan lagu Suket Teki. Lagu tersebut juga mendapatkan apresiasi yang tinggi dari warga Indonesia.
Idola Milenial
Nama Didi Kempot kembali naik setelah setelah meredup beberapa tahun.
Lagu ambyarnya banyak diminati kaum milenial yang akrab dengan media sosial.
Perjalanan karier Didi Kempot yang berliku hingga mencapai kesuksesan seperti saat ini tidak membuatnya sombong.
Ia dikenal sebagai pribadi yang ramah kepada penggemarnya. Didi bahkan tidak ragu mengajak penggemarnya bernyanyi bersama di atas panggung.
Didi Kempot juga memiliki nama julukan untuk penggemarnya yaitu Sobat Ambyar.
Konsernya pun tidak pernah sepi.Bahkan jadwal konser tournya bertajuk Milenial Ambyar 2020 harus tertunda akibat wabah Corona.
Selain Cidro, lagunya yang banyak diminati oleh kalangan milenial adalah lagu Pamer Bojo, Banyu Langit, Layang Kangen, Kalung Emas, Sewu Kuto, Tanjung Mas Ninggal Janji dan banyak lagu lainnya.
Tahun 2019 lalu, Didi memperoleh Indonesia Dangdut Award 2019 untuk kategori Penghargaan Khusus Maestro Campuran.
Kini Didi Kempot sudah berpulang. Ia tutup usia saat di puncak karir kepopulerannya.
Didi meninggalkan seorang istri bernama Yan Vellia yang merupakan penyanyi dangdut asal Semarang.
Selamat jalan Lord Didi Kempot, lagu-lagumu akan selalu didendangkan di kota-kota hingga pelosok desa.