AYOJAKARTA.COM - Ray Sahetapy meninggal dunia setelah menderita berbagai komplikasi penyakit yang dideritanya selama beberapa tahun.
Berdasarkan penjelasan adiknya, Charly Sahetapy, kondisi kesehatan Ray mengalami penurunan bertahap akibat beberapa penyakit yang dideritanya secara bersamaan.
"Intinya dia tu komplikasi, jadi sakitnya komplikasi. Dia gula, kemudian juga paru-paru karena pernah tersedak, sempat dirawat rumah sakit Persahabatan. Dia juga stroke, jadi makin-makin lemah itu yang akhirnya," jelas Charly.
Diabetes Ray pertama kali terdeteksi pada tahun 2017 dan berusaha diobati, namun kemungkinan Ray kesulitan mengendalikan pola makannya.
Baca Juga: BLT Dana Desa Rp600.000 Dipercepat, Pemerintah Prioritaskan Pencairan Mulai Hari Ini!
Charly menjelaskan, "Diabetesnya itu ketahuannya di 2017, sudah ketahuan 2017 kemudian berusaha diobati, ya mungkin dia juga tidak bisa kendaliin makanan kalinya, karena sebelumnya kan dia tinggal beda dengan saya, jadi saya juga tidak bisa kontrol."
Kondisi Ray semakin memburuk setelah mengalami stroke yang mengharuskannya dirawat selama 9 hari di RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo).
Stroke yang dialami Ray menyebabkan gangguan kognitif dan fisik yang signifikan.
Hasil pemeriksaan MRI menunjukkan adanya penyempitan pembuluh darah di otak bagian kiri yang memengaruhi kemampuan berbahasa.
Baca Juga: Daftar HP Murah di Bawah 1 Juta tapi Spek Tinggi untuk Gaming
"Dia sudah lupa banyak, yang dia lupalah karena strokenya itu dan ada penyempitan di pembuluh darah di sini. Setelah MRI, dia penyempitan dari sini, ini lebih ke bahasa sebenarnya di kiri ini katanya," ungkap Charly.
Kondisi ini membuat Ray kesulitan berbicara, menulis, dan melakukan berbagai aktivitas.
"Jadi itu yang membuat dia susah ngomong, susah tulis, apa-apa enggak bisa," tambah Charly.
Setelah stroke, Ray tinggal bersama Charly yang secara rutin membawanya kontrol ke RSCM selama berbulan-bulan.
Ray juga mengalami kesulitan berjalan karena kaki yang tidak berfungsi normal, "Kemudian jalan juga kita, kalau mungkin instruksi ke kaki ini enggak bisa," dan harus menjalani fisioterapi.
Kondisi Ray semakin memburuk ketika ia sering mengalami tersedak, yang awalnya tidak fatal namun memerlukan kontrol pada bagian leher karena kesulitan menelan yang umum dialami penderita stroke.
Hingga suatu saat, Ray mengalami tersedak parah yang mengancam nyawanya.
"Suatu saat dia benar-benar tersedak itu sampai sampai biru malahan," kata Charly.
Baca Juga: Dianggap Kurang Wajar! Penyebab Loncatan Pangkat Mayor Teddy Menjadi Letkol Jadi Sorotan Warganet
Perawat yang mendampingi Ray segera memanggil Charly, "Om, Om, Opa lagi sesak napas."
Ray kemudian dibawa ke IGD, awalnya di Pondok Indah, namun kemudian dirujuk ke RS Persahabatan dan dirawat di ICU selama sekitar 3 hari, sebelum dipindahkan ke ruang paru-paru yang merupakan spesialisasi RS Persahabatan.
Mengenai hubungan pribadi dengan almarhum, Charly menceritakan kedekatan mereka, "Saya juga lama sama dia gitu karena saya langsung sama dia. Sempat juga bikin usaha sama-sama. Saya di lapangan, dia editor, tahu juga sebagai kuradara, tahu juga sebagai pemain."
Charly menjelaskan bahwa Ray memiliki latar belakang teater.
Baca Juga: Dahsyatnya Pahala Puasa Syawal 6 Hari, Begini Cara Niat dan Keutamaan yang Jangan sampai Dilewatkan
"Kebetulan kan dulu zaman waktu di ITB, dia kan punya teater. Sering nampir, jadi kadang-kadang ikut-ikut ngimbrung gitu."
Terkait pemakaman, Charly mengatakan bahwa Ray akan dimakamkan pada hari Jumat setelah semua anaknya berkumpul.
"Untuk pemakamannya sendiri Jumat. Anak-anak udah sudah berkumpul, tadi malam sudah. Anaknya empat ya, Giska sudah meninggal, Rama tadi malam datang, terus yang Suraya ada di Amerika. Mereka menunggu Suraya ini, jadi hari Kamis malam datang, Jumat dimakamkan," jelas Charly.
Menariknya, Ray sebenarnya memiliki wasiat untuk dimakamkan di Sulawesi, di makam keluarga Sahetapi-Nelwan.
"Kita punya keluarga Sahetapi-Nelwan. Kalau dalam Nelwan itu Manado, Sahetapi Ambon. Ada makam khusus kita ada di sana dari kakek nenek saya, kemudian Ayah Ibu saya di situ. Dia minta juga di situ dan saya nanti akan kembali di situ," ungkap Charly.
Namun, anak-anak Ray menginginkan agar ayah mereka dikuburkan di Jakarta terlebih dahulu.
Charly menghormati keinginan keponakannya, "Anak-anaknya mereka juga kepingin nanti bersih kuburannya. Oke deh, kita kasih waktu satu dua tahun, nanti sesuai dengan amanah dia mungkin kita akan pindahin ke sana mungkin ya, nanti dilihat perkembangan. Dua tahun kan cukup lama, jadi kita lihat perkembangan itu. Jadi kita tetap masih ikuti apa keinginan anak-anaknya dulu."***