AYOJAKARTA.COM - Sebuah video asusila yang mirip dengan artis Rebecca Klopper sedang menjadi viral di media sosial dan menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan.
Menyebarnya video asusila Rebbeca Klopper mengundang reaksi Pakar Telematika yang bernama Abimanyu.
Secara langsung Pakar Telematika Abimanyu memberikan sebuah analisis untuk menjawab pertanyaan banyak orang yang penasaran, apakah memang benar perempuan dalam video tersebut Rebbeca Klopper ?
Baca Juga: Tak Perlu Hapus Pesan Lagi! WhatsApp Hadirkan Fitur Edit Pesan yang Telah Dikirim, Begini Caranya
Melalui analisisnya, menurut Abimanyu perempuan dalam video tersebut mirip dengan Rebecca Klopper, terutama dari segi wajah.
Abimanyu juga menjelaskan bahwa terkait dalam segi kemiripan di dalam Video dan Rebecca Klopper dapat di kategorikan identik.
"Dilihat dari wajah pemeran wanitanya itu tetap saya harus menggunakan kata mirip ya, sebetulnya di situ juga sudah jelas bersangkutan. Identik sekali," Ungkap Abimanyu dikutip AyoJakarta.com dari Suara.com pada (24/5/2023).
Baca Juga: Tegas! Anies Baswedan Ingin Mafia di Indonesia Diberantas Tuntas
Selain itu, Abimanyu juga menyoroti tahi lalat di pinggang perempuan dalam video tersebut. Rebecca Kloper juga disebut memiliki tanda itu di tempat yang sama.
Abimanyu yakin bahwa konten video asusila tersebut bukan hasil editan atau rekayasa digital.
"Yang pasti, konten ini benar-benar suatu kejadian yang direkam secara natural saja," Ujar Abimanyu.
Walaupun banyak yang sudah yakin bahwa perempuan dalam video tersebut memang Rebecca Kloper, namun hal ini masih belum bisa dipastikan secara resmi.
Baca Juga: Tak Perlu Hapus Pesan Lagi! WhatsApp Hadirkan Fitur Edit Pesan yang Telah Dikirim, Begini Caranya
Meskipun begitu, video ini tetap menimbulkan kontroversi dan reaksi publik dari berbagai kalangan warganet.
Kontroversi seperti ini bisa menjadi bumerang bagi pemilik video karena dapat merusak reputasi dan citra mereka.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu berhati-hati dalam memposting atau membagikan konten di media sosial, terutama jika itu berisi materi yang berpotensi merugikan.***