AYOJAKARTA.COM -– Konser Coldplay yang akan diselenggarakan di GBK Jakarta memiliki banyak peminat meski harga tiket mencapai Rp 11 juta.
Menurut data Billboard, konser Coldplay merupakan salah satu musisi dengan tour konser terlaris sepanjang masa.
Bukan merupakan rahasia juga Coldplay memiliki banyak penggemar di seluruh dunia yang rela membayar mahal untuk dapat menyaksikan konser Coldplay.
Pada aplikasi pemutar musik Spotify ada hampir 64 juta pendengar aktif bulanan dari lagu-lagu Coldplay. Di Indonesia sendiri Coldplay menduduki urutan ke-4 dengan 1.040.763 pendengar aktif bulanan.
Berikut daftar harga tiket konser Coldplay di GBK :
- ULTIMATE EXPERIENCE (CAT1) : Rp 11.000.000
- MY UNIVERSE (FESTIVAL) : Rp 5.700.000
- CAT 1 : Rp 5.000.000
- Festival (Free Standing): Rp 3.500.000
- CAT 2 : Rp 4.000.000
- CAT 3 : Rp 3.250.000
- CAT 4 : Rp 2.500.000
- CAT 5 : Rp 1.750.000
- CAT 6 : Rp 1.250.000
- CAT 7 : Rp 1.250.000
- CAT 8 : Rp 800.000
Dilansir AyoJakarta.com dari akun Instagram @ngomonginuang (13/5/2023), ternyata konser Coldplay A Head Full of Dreams Tour pada tahun 2006 – 2007 menghasilkan pendapatan kotor senilai US$ 524 juta atau setara dengan Rp 8 triliun.
Diperkirakan konser Coldplay di GBK dapat memecahkan rekor tour konser sebelumnya dan mendapat pendapatan lebih dari Rp 8 triliun.
Nyatanya pendapatan yang didapat dari konser Coldplay bukan hanya dari penjualan tiket saja tetapi juga dari penjualan album, royalti dan sponsorship.
Inilah pendapatan konser Coldplay dari beberapa tahun terakhir :
- 2015 : Rp 115 miliar dari penjualan album Head Full of Dreams
- 2017 : Rp 7,7 triliun dari tour Full of Dreams
- 2018 : Rp 1,7 triliun
- 2019 : Rp 11,3 miliar dari penjualan rekaman album live 2012
Maka dari data pendapatan Coldplay, diperkirakan musisi ini memiliki pendapatan bersih Rp 11 triliun dari awal karir di 1996.
Menariknya, konser Coldplay Music of The Spheres World Tour di Indonesia akan digelar dengan konsep ramah lingkungan dengan sumber daya lokal.
Salah satunya adalah dekorasi panggung yang menggunakan bambu dan baja daur ulang sehingga rendah karbon. ***(Awit Wiarni)