Internasional

Mengupas Tuntas Crowd Crush Penyebab Tragedi Itaewon

Oleh: Awit Wiarni Rabu 02 Nov 2022, 19:30 WIB
Mengupas Tuntas Crowd Crush Penyebab Tragedi Itaewon

AYOJAKARTA.COM – Terjadinya tragedi Itaewon baru-baru ini membuat isu crown crush naik ke permukaan. Beberapa insiden di keramaian yang terjadi disebabkan karena crown management yang kurang maksimal.

Dilansir dari The Washinton Post yang menaggapi tragedi Itaewon, crown crush terjadi di saat jumlah orang tidak sesuai dengan lokasi yang terbatas dan mengakibatkan saling dorong lalu menyebabkan kerumunan berjatuhan.

Ada kalanya keramaian bisa menjadi hal yang membayakan dan crowd management yang gagal bisa berakibat fatal. Dalam beberapa kasus selain tragedi Itaewon, crown crush bahkan bisa berujung ke aksi vandalisme, penyerangan, hingga pembunuhan.

Baca Juga: Kompak Berpakaian Hitam di Sidang, Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi Dihadiahi Suara Teriak Pengunjung

Dalam keadaan crown crush bisa juga disebut progressive crown collapse kadar oksigen pada manusia akan menurun drastis hingga ke tahap otak harus memilih untuk shut down tubuhnya.

Penurunan kesadaran akan terjadi hanya dalam waktu kurang dari 1-2 menit pada keadaan otak yang kekurangan oksigen. Tingkat bahaya pada hal ini sama halnya dengan tingkat bahaya tercekik atau bahkan lebih parah.

Perlu diketahui bahwa otak kita sangatlah sensitif. Otak memiliki otonomi untuk melakukan cara apapun demi mendapatkan oksigen, walaupun harus menghentikan tubuh ataupun jantung.

Saat terjadi crown crush, orang-orang yang berada pada kerumunan akan saling berdesakan, menekan dengan sangat kuat yang mengakibatkan dada tidak bisa mengembang-kempis untuk bernafas.

Baca Juga: Ferdy Sambo Terancam Hukuman Mati, Anak Pertamanya Justru Disebut Mirip Sisca Kohl : Keliatan Positif Anaknya

Otak akan membuat keputusan sulit dengan membuat tubuh pingsan agar jatah oksigen bisa diprioritaskan untuk otak. Ketika jumlah oksigen masih belum cukup maka otak akan memerintahkan jantung untuk berhenti.

Inilah penyebab banyak orang yang mengalami henti jantung (cardiac arrest) pada insiden Itaewon. Pada tahap henti jantung ini, otak tidak akan bisa bertahan tanpa jantung yang bekerja. Oleh karena itu korban harus segera diresusitasi dengan CPR dan dipindahkan ke tempat terbuka.

Seorang ilmuwan di Berlin, Mehdi Moussaid pernah menulis buku yang berjudul “Fouloscopie: Ce que la foule dit de nous” yang mempelajari tentang perilaku keramaian.

Pertama, kita harus bisa mengira-ngira kepadatan keramaian. Selama kurang dari lima orang ada di area satu meter persegi menunjukan keadaan masih aman.

Baca Juga: Heboh! Sindir Dewi Perssik Usai Laporkan Fans Lesti-Billar, Satria Mulia: Receh Banget Mentalnya

Moussaid menyarankan kita untuk langsung keluar dari kerumunan disaat sudah terlalu padat. Kita harus melakukan hal ini segera selagi masih ada ruang untuk bergerak.

Tapi ketika kita sudah terlanjur berada dalam kerumunan yang padat, kita dianjurkan untuk terus aware dengan keadaan sekitar dan segala bahaya yang mungkin terjadi.

Apapun yang terjadi, sebisa mungkin kita harus tetap bisa berdiri. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari kemungkinan jatuh dan terinjak oleh orang lain.

Tapi sebelumnya kita harus menjaga dada kita agar tetap bisa kembang-kempis dengan cara meletakkan tangan di depan dada. Banyak yang mengira kematian pada crowd crush terjadi karena jatuh terinjak atau terbentur, tetapi bahaya fatalnya justru karena kehabisan oksigen.***

Reporter Awit Wiarni
Editor Vincensia Enggar Larasati