AYOJAKARTA.COM -- Afrika Selatan mencatat mengalami penurunan kasus Covid-19 sekitar 40% dalam setiap kasus barunya. Dalam seminggu terakhir, rata-rata infeksi baru turun 35 persen, dari yang tertinggi 23 ribu kasus pada Sembilan hari lalu.
Saat ini, mereka mencatat kasus baru menjadi 15 ribu pada Senin (27/12). Para ahli di Afrika Selatan menyebut negaranya telah melewati puncak varian Omicron dengan tingkat kematian yang lebih rendah dibanding varian Delta.
Namun, data di Afrika Selatan ini tidak dapat dijadikan contoh oleh negara lain. Pasalnya, para ahli mengingatkan bahwa Afrika Selatan telah memiliki kekebalan tubuh tingkat tinggi, karena pernah melewati gelombang varian Beta dan Delta secara bersamaan.
Baca Juga: Malam Tahun Baru, Polresta Bogor Kota Bakal Tutup 6 Jalan Kota Bogor
"Kita harus menafsirkan data dari Afrika Selatan dengan sangat hati-hati. Ini masih awal dan praktik kesehatan masyarakat bersifat lokal," kata John Nkengasong, Direktur CDC Afrika, seperti dikutip dari Business Insider, Rabu 29 Desember 2021.
"Data ini mengkonfirmasi apa yang telah dikatakan para ilmuwan di Afrika Selatan selama beberapa minggu, bahwa ini adalah varian yang lebih menular, membuat orang lebih mungkin untuk tertular, tetapi gejala dan dampaknya tidak terlalu parah," tambah Jamie Jenkins, yang merupakan mantan kepala analisis kesehatan di Kantor Statistik Nasional Inggris, seperti dikutip oleh Daily Mail.
"Kami melihat kematian yang jauh lebih sedikit daripada yang kami alami di masa lalu," tambahnya.
Baca Juga: Wali Kota Bogor Jagokan Indonesia Menang Lawan Thailand dengan Skor 2-1
Pekan lalu data baru dari Afrika Selatan menunjukkan sembilan dari 10 kematian akibat Omicron terjadi pada pasien yang tidak divaksinasi. Di antara 309 kematian di negara itu yang terinfeksi varian Omicron, hanya 40 kasus ditemukan pada orang yang divaksinasi penuh. Hal ini menandakan bahwa vaksin dapat meringankan tingkat infeksi bahkan keparahan akibat Covid-19.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), memperingatkan bahwa risiko secara keseluruhan terkait dengan varian Omicron tetap tinggi, yang dapat menyebabkan gangguan pada sistem kesehatan dan layanan penting lainnya.
“Bukti konsisten menunjukkan bahwa varian Omicron memiliki keunggulan pertumbuhan dibandingkan varian Delta dengan waktu inkubasi dua hingga tiga hari,” kata WHO.