Internasional

Singapura Temukan 10 Kasus Pembekuan Darah Otak Pada Penerima Vaksin Pfizer dan Moderna

Oleh: Icheiko Ramadhanty Kamis 23 Sep 2021, 18:08 WIB
Ilustrasi Vaksin Covid-19

SINGAPURA, AYOJAKARTA – Pemerintah Singapura menemukan 10 kasus yang diduga mengalami cerebral venous thrombosis (CVT) atau pembekuan darah di otak di antara mereka yang menerima vaksin Covid-19 merk Pfizer dan Moderna.

CVT adalah jenis bekuan darah yang sangat jarang terjadi di pembuluh darah otak, namun dapat terjadi secara alami di luar akibat dari vaksinasi. Terdapat faktor risiko dan CVT termasuk riwayat medis gangguan pembekuan darah, trauma kepala, dan penggunaan obat-obatan seperti kontrasepsi oral dan obat-obatan untuk terapi penggantian hormon.

Tingkat kejadian CVT secara tahunan biasanya terjadi pada populasi umum sekitar 1,3 hingga 2 dari 100.000 orang. Data tersebut dikemukakan oleh Otoritas Ilmu Kesehatan (HSA) Singapura.

Di antara kasus dugaan CVT terkait vaksin, HSA mencatat bahwa tidak ada yang berakibat fatal. Namun, mereka belum dapat menentukan apakah ada peningkatan tingkat CVT terkait dengan penggunaan vaksin berbasis mRNA itu.

Pihak berwenang saat ini sedang memantau kejadian serupa dan meninjau kasus yang dilaporkan dengan para ahli lokal. Kendati begitu, tercatat tidak ada regulator luar negeri yang mengidentifikasi CVT sebagai dampak dari vaksin berbasis mRNA.

Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet, penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menemukan bahwa tingkat kejadian CVT pada orang yang menerima vaksin Pfizer dan Moderna sebanding dengan tingkat dasar CVT di antara populasinya. Hal ini berarti bahwa kedua vaksin tersebut tidak ada kaitannya dengan pembekuan darah di otak.

Sementara itu, dalam studi besar lainnya di Inggris, disimpulkan bahwa risiko sebagian besar kejadian pembekuan darah secara substansial, lebih tinggi setelah terinfeksi Covid-19 dibandingkan dengan setelah vaksinasi.

Asisten Profesor Christine Cheung dari Fakultas Kedokteran Universitas Teknologi Nanyang mengatakan bahwa selain penggumpalan darah yang terjadi di otak pasca-vaksinasi, gumpalan langka juga ditemukan di area lain, seperti pembuluh darah besar di perut, serta di beberapa arteri yang membawa darah beroksigen dari jantung ke berbagai organ.

Di antara mereka yang memiliki pembekuan darah pasca vaksinasi, sebagian besar memiliki jumlah trombosit yang rendah. "Ini ironis, karena ini adalah sel darah yang biasanya mencegah pendarahan dengan membentuk gumpalan," kata Cheung, seperti dilansir dari The Straits Time, Kamis 23 September 2021.

"Apa yang ditemukan justru pasien memiliki antibodi tertentu yang dapat mengaktifkan trombosit dan menyebabkan menggumpal, yang pada gilirannya menyumbat pembuluh darah penting. Pemicu sebenarnya untuk produksi antibodi tersebut masih belum pasti," lanjutnya.

Data HSA juga menunjukkan bahwa kasus CVT yang dilaporkan secara lokal tidak terkait dengan trombositopenia atau kadar trombosit yang rendah. Ini berbeda dibandingkan dengan kasus CVT di luar negeri dengan trombositopenia yang terjadi pada orang yang menerima vaksin AstraZeneca dan Janssen (Johnson & Johnson).

Cheung menunjukkan bahwa ada lebih sedikit laporan CVT yang muncul dari vaksin berbasis mRNA dibandingkan dengan vaksin AstraZeneca dan Janssen.

Reporter Icheiko Ramadhanty
Editor Firda Puri