MYANMAR, AYOJAKARTA.COM – Laporan PBB menyatakan 138 demonstran tewas sejak kudeta militer 1 Februari 2021. Korban tewas termasuk wanita dan anak-anak.
Menyadur Anadolu Agency, ada 38 orang yang tewas pada hari Minggu yang mayoritas berasal dari daerah Hlaing Thayer di Yangon, sementara 18 orang dilaporkan tewas pada hari Sabtu.
"Kami melihat akhir pekan yang penuh dengan pertumpahan darah," kata Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
Guterres mengutuk kekerasan pada demonstran yang melakukan aksi damai. "Itu merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang paling dasar dari rakyat Myanmar," ujarnya.
Meskipun junta militer semakin brutal, rakyat Myanmar tidak berhenti demonstrasi untuk menentang kudeta 1 Februari. Lebih dari 2 ribu orang ditahan di seluruh negeri sejauh ini.
Sementara itu, seorang polisi juga tewas dalam insiden pembakaran pabrik milik Tiongkok pada Minggu (14/3/2021).
Kedutaan Besar Tiongkok mengatakan banyak staf yang berasal dari Tiongkok terluka dan terperangkap dalam serangan yang terjadi di pabrik garmen di Hlaingthaya.
Ketika terjadi kebakaran, pasukan keamanan menembaki pengunjuk rasa di pinggiran kota yang merupakan rumah bagi para migran dari seluruh negeri, kata media lokal.
Darurat militer diberlakukan di Hlaingthaya dan distrik lain di Yangon, pusat komersial Myanmar dan bekas ibu kota, media pemerintah mengumumkan.