WASHINGTON, AYOJAKARTA.COM - Perempuan pertama yang menjadi astronot dan sudah menjelajah di luar angkasa, Kathy Sullivan, kini menyelami Samudera Pasifik untuk menemukan titik paling rendah di bumi di Challenger Deep. Ia bersama penjelajah laut dalam, Victor Nescovo, menyelam ke dalam Palung Mariana, sekitar 200 mil barat daya Guam.
Keduanya menghabiskan waktu sekira satu setengah jam di lokasi tujuan, serta mengabadikan momen tersebut selama empat jam mulai dari awal di kapal, hingga kembali lagi ke permukaan. Padahal, tempat yang mereka selami merupakan wilayah perairan gelap kehitaman dengan suhu beku dan tekanan air dalam.
Challenger Deep atau kedalaman Chalengger merupakan tempat yang pertama kali dijamah oleh ahli kelautan Swiss, Jacques Piccard, dan Letnan Angkatan Laut AS, Don Walsh, pada 1960. Kemudian, pada 2012, sutradara film terkenal, Titanic James Cameron mengunjungi situs di atas Deepsea Challenger. Kedalamannya mencapai 36 ribu kaki (sekitar 6,8 mil).
"Sebagai seorang ahli kelautan dan astronaut hibrida, ini adalah hari yang luar biasa, sekali dalam seumur hidup, melihat pemandangan bulan Challenger Deep dan kemudian membandingkan catatan dengan rekan-rekan saya di ISS tentang kendaraan luar angkasa yang dapat digunakan kembali," ujar Sullivan dalam sebuah pernyataan, dilansir Zmscience, Rabu (10/6/2020).
Penyelaman kapal selam adalah bagian dari ekspedisi Ring of Fire yang diselenggarakan oleh Caladan Oceanic, sebuah perusahaan eksplorasi laut dalam yang didirikan oleh Vescovo. Perusahaan itu menyelenggarakan ekspedisi Five Deeps, yang mengeksplorasi lima titik terdalam di Bumi. Ekspedisi baru ini berharap dapat menyediakan video 4K pertama Challenger Deep.
Pada 1978, Sullivan bergabung dengan NASA sebagai bagian dari kelompok pertama astronaut AS yang menyertakan perempuan. Pada 11 Oktober 1984, ia menjadi wanita Amerika pertama yang berjalan di luar angkasa.
"Itu benar-benar hebat," ujar Sullivan setelah melakukan perjalanan ke teluk kargo Challenger, sekitar 140 mil di atas Bumi.
Kemudian, Sullivan menjadi bagian dari National Oceanic and Atmospheric Administration. Ia mengaku selalu tertarik dengan berbagai hal tentang lautan dan samudera. Sebelum menjadi astronaut, ia berpartisipasi dalam salah satu upaya pertama untuk menggunakan submersible untuk mempelajari proses vulkanik yang membuat kerak samudera.
Tim Shank, seorang ahli biologi di Lembaga Kelautan Woods Hole, mengatakan kepada The New York Times bahwa Sullivan adalah "pemimpin yang sempurna" dalam studi tentang lautan dunia. Ia sangat senang mendengar bahwa perjalanan bersejarah ke titik terendah Bumi dapat dilakuka olehnya.
"Kapan pun kita bisa mencapai tempat-tempat ekstrem di Bumi untuk mempelajarinya, itu adalah peristiwa besar," kata Shank.