Internasional

Pelajaran Berharga dari Republik Ceko, Bagaimana Melewati Masa Kritis Pandemik COVID-19

Oleh: Admin Kamis 30 Apr 2020, 10:58 WIB
Suasana kota Praha, Republik Ceko (dok Choirul Anam)

Republik Ceko merupakan salah satu negara Eropa tengah yang terdampak COVID-19. Meski demikian, pemerintah Ceko dapat menekan angka penyebaran COVID-19 dan meminimalisir risiko yang terjadi. 

Kementerian Kesehatan Ceko mengumumkan kasus pertama COVID-19 pada 1 Maret 2020 sebanyak tiga kasus. Dua kasus di Kota Praha dan satu kasus di Kota Usti Nad Labem. Kasus pertama ini terkonfirmasi tertular dari Italia utara. Di mana, Italia hingga saat ini masih belum dapat keluar dari masa krisis pandemik COVID-19.

Karena itulah, untuk mengantisipasi penyebaran COVID-19, pemerintah ceko memutuskan untuk melakukan shutdown dengan menutup berbagai fasilitas publik mulai tanggal 10 Maret 2020 dan melarang perkumpulan orang lebih dari 100 orang. 
Lalu, pada 12 Maret, berdasarkan resolusi 194, pemerintah Ceko menetapkan state of emergency dan menutup seluruh aktivitas publik kecuali groceries, farmasi, toko obat, dan pom bensin serta melarang perkumpulan orang lebih dari dua orang. 

Berdasarkan keterangan resmi dari pemerintah Ceko, state of emergency ini diperpanjang hingga 17 Mei 2020 atau terhitung dua bulan sejak 12 Maret 2020. 

Dengan state of emergency ini, pemerintah Ceko menerapkan pengetatan aktivitas publik yang hanya mengizinkan orang keluar rumah untuk membeli kebutuhan makanan dan obat-obatan, serta menutup seluruh perbatasan negara baik darat dan udara. Selain itu, pemerintah Ceko juga mewajibkan penggunaan masker selama masa state of emergency hingga saat yang belum ditentukan guna membantu mengurangi penyebaran COVID-19.

Hingga artikel ini ditulis, Ceko telah mengkonfirmasi (per 25 April 2020) sebanyak 7.352 kasus dengan total kematian 201 orang atau tingkat kematian 2,73 persen. Fatality rate ini jauh di bawah rata-rata fatality rate dunia yang mencapai 6,95 persen atau 203.299 kematian dari 2.921.513 kasus.

Kebijakan yang diambil pemerintah Ceko, menarik untuk menjadi perhatian. Sebab, meskipun sudah resmi memperpanjang masa state of emergency, pemerintah sudah mulai membuka beberapa aktivitas publik dan telah mengizinkan masyarakat untuk keluar rumah untuk berolahraga, melakukan aktivitas penting lainnya dan tetap membatasi perkumpulan tidak boleh lebih dari 10 orang. 
Pelonggaran kebijakan ini dilakukan setelah Ceko berhasil melewati masa kritis pandemik COVID-19.

Apa kunci keberhasilan Ceko melewati masa-masa puncak pandemik COVID-19?

Pertama, komitmen dan ketegasan pemerintah. Pelajaran yang dapat diambil dari pemerintah Ceko adalah penerapan kebijakan satu pintu yang tegas dari pemerintah serta sikap tanggap darurat yang cepat sehingga Ceko bisa lepas dari masa puncak pandemik COVID-19. 

Ceko patut dijadikan salah satu contoh keberhasilan pemerintahan dalam menghadapi pandemik COVID-19. Tanpa harus menunggu banyak kasus, pemerintah Ceko tegas mengambil kebijakan shutdown pada 10 maret 2020 atau berjarak hanya sembilan hari setelah kasus pertama diumumkan atau saat kasus baru mencapai 63 orang terinfeksi. Ini menunjukkan komitmen dan keseriusan pemerintah dalam memerangi pandemik COVID-19.

Untuk memitigasi risiko setelah pandemik COVID-19, pemerintah Ceko juga menerapkan Five Star Plan atau rencana tahapan untuk pemulihan kondisi setelah pandemik COVID-19. Jadi, Ceko akan membuka diri secara bertahap, antara lain tanggal 20 April membolehkan pasar tradisional dari petani langsung untuk buka, acara pernikahan juga diperbolehkan tidak lebih dari 10 orang. 

Lalu tanggal 27 April, toko dengan luas maksimal 200 m2 sudah diperbolehkan buka, terkecuali toko di dalam mall atau pusat perbelanjaan. Kemudian, sekolah mengemudi, gym dan pusat kebugaran serta toko dengan luas 1000 m2 baru akan dibuka 11 Mei 2020. Cafe, pub, dan restaurant baru dibuka 25 Mei dan langkah terakhir yaitu membuka semua aktivitas publik pada 6 Juni 2020, termasuk bioskop dan tempat wisata.

Pemerintah memberikan perhatian yang sangat baik kepada masyarakat, sedangkan masyarakatnya sangat patuh terhadap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Salah satu kebijakan yang sangat baik adalah memberlakukan social distancing antar warganya. Selain itu dalam penanganan bagi pasiennya juga dapat dikatakan sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari fasilitas kesehatan yang tersedia. 

Di Republik Ceko sendiri tidak ada istilah ODP atau PDP bagi pasien, yang ada adalah bila seseorang dicurigai pernah melakukan kontak dengan seseorang yang positif virus ini, maka harus melakukan self quarantine di rumah masing–masing selama 14 hari dan akan diawasi oleh dokter yang bertanggung jawab.

Kedua, kepatuhan dan ketaatan masyarakat dalam menjalankan setiap arahan dan peraturan yang ditetapkan pemerintah. Peraturan untuk berbelanja, secara khusus diatur di mana lansia berusia lebih dari 65 tahun hanya dapat berbelanja pada pukul 7 pagi hingga 10 pagi. Sedangkan untuk masyarakat usia lainnya dapat berbelanja sejak pukul 11 pagi hingga 8 malam. 

Peraturan berbelanja juga dipatuhi secara ketat, yaitu physical distancing hingga 2 meter, menjaga jumlah orang yang masuk ke pusat perbelanjaan, penggunaan masker, dan lainnya.

Kombinasi tindakan cepat dan tegas dari pemeirntah serta kepatuhaan dan ketaatan masyarakat tentunya menjadi dua hal utama yang mendorong percepatan keluarnya ceko dari masa puncak pandemik COVID-19. Diharapkan pada Mei nanti, masyarakat sudah mulai beraktivitas normal dengan beberapa pembatasan dan tetap mewajibkan penggunaan masker.

Langkah nyata pemerintah Ceko ini, patut menjadi pelajaran berharga bagi Indonesi. Supaya pandemik COVID-19 yang terjadi di Indonesia bisa segera selesai dan terlewati dengan baik.


Choirul Anam
Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Ceko; Mahasiswa studi PhD di Charles University, Praha

Reporter Admin
Editor Widya Victoria