Internasional

70 Vaksin Virus Corona Dikembangkan di Seluruh Dunia

Oleh: Admin Senin 20 Apr 2020, 18:18 WIB
Ilustrasi

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Sebanyak 70 vaksin virus corona sedang dikembangkan oleh para peneliti di seluruh dunia. Jumlah ini naik sejak 20 Maret, yang mencatatkan 44 vaksin, demikian menurut sebuah dokumen yang dipublikasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Para ahli memperkirakan butuh antara 12 hingga 18 bulan sampai vaksin tersebut disetujui untuk penggunaan secara massal. Dilansir CNBC, dari 70 vaksin tersebut, hanya 3 yang sedang berada dalam uji klinis, yang berarti sudah diujikan kepada manusia.

Uji klinis didesain untuk melihat keamanan dan efikasi dari suatu obat baru dan terdiri atas beberapa fase, tiap fasenya melibatkan sejumlah pasien. Tiga vaksin tersebut berasal dari perusahaan CanSino Biological di Tiongkok, yang bekerja sama dengan Beijing Institute of Biotechnology, dengan kandidat vaksinnya berada di uji klnis fase kedua.

AYO BACA : Telat Tangani Corona, Banyak Mayat Terkatung-katung di Ekuador

Kemudian Moderna dan Inovio Pharmaceuticals dari Amerika Serikat yang sedang berada dalam fase pertama. Sementara 67 vaksin potensial lainnya sedang dalam tahap pra-uji klinis.

Sembari menanti vaksin, para peneliti mencari pengobatan-pengobatan lain yang efektif dengan obat-obat yang sudah ada. Misalnya perusahaan health-care AstraZeneca di Inggris yang mengumumkan pada Selasa (14/4/2020) akan memulai uji klinis untuk menilai potensi Calquence, obat yang digunakan untuk mengobati leukemia.

Obat ini akan digunakan sebagai perbaikan respons imun terkait Covid-19. Uji coba ini diperkirakan akan dibuka beberapa hari lagi di AS dan beberapa negara di Eropa.

AYO BACA : Bertambah 185, Hari Ini Ada 6.760 Kasus Positif COVID-19 se-Indonesia

Masih banyak kesimpangsiuran soal keamanan penggunaan obat malaria klorokuin dan hidroksiklorokuin yang disebut-sebut oleh Presiden AS Donald Trump sebagai obat terbaik.

Namun hal ini kemudian dibantah oleh para peneliti di Brasil setelah mereka menemukan bahwa dosis tinggi obat tersebut terkait dengan timbulnya denyut jantung yang tak beraturan.

"Komunitas riset medis sedang menangani potensi klorokuin dan hidroksiklorokuin secara serius dan kini sedang terlibat dalam beberapa uji coba yang berbeda," kata WHO Executive Director of the Health Emergencies Programme, Dr Michael Ryan, berbicara pada briefing soal virus corona di Jenewa, Senin (13/4/2020).

Dia menambahkan, belum ada bukti empiris bahwa obat tersebut dapat bekerja, dan para dokter telah diperingati soal efek samping dari obat-obatan tersebut.
 

AYO BACA : Terlalu Nyaman, Reynhard Sinaga Dipindah ke “Monster Mansion”

Reporter Admin
Editor Budi Cahyono