Internasional

Strategi Menag Nasaruddin Umar di Mesir, Jadikan Agama Kompas Moral AI dan Pelestarian Lingkungan

Oleh: Gita Esa Hafitri Selasa 20 Jan 2026, 12:09 WIB
Strategi Menag Nasaruddin Umar di Mesir, Jadikan Agama Kompas Moral AI dan Pelestarian Lingkungan

AYOJAKARTA.COM -- Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, memberikan pemaparan mendalam mengenai ekoteologi dan esensi kesadaran kemanusiaan pada era Artificial Intelligence (AI).

Gagasan visioner ini ia sampaikan dalam konferensi internasional bergengsi yang diselenggarakan oleh Kementerian Wakaf Republik Arab Mesir di Kairo.

Acara tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh besar dunia Islam, termasuk Menteri Wakaf sekaligus Ketua Dewan Tertinggi Urusan Islam Mesir, Prof. Dr. Usamah Al-Sayyid Al-Azhari.

Turut hadir para ulama, cendekiawan, serta peneliti lintas negara. Dalam kunjungan kenegaraan ini, Menag didampingi oleh Direktur Penerangan Agama Islam, Muchlis M. Hanafi, dan Tenaga Ahli Menag, Bunyamin Yafid.

Menag Nasaruddin Umar mengawali pidatonya dengan menyampaikan salam hangat dari Presiden Prabowo Subianto serta apresiasi kepada Presiden Abdel Fattah El-Sisi atas terselenggaranya forum ilmiah ini.

Inti dari paparan Menag adalah membedah tanggung jawab manusia yang tidak hanya terbatas pada pencarian nafkah, tetapi mencakup dimensi moral dan amanah sosial untuk memakmurkan bumi.

Dalam forum tersebut, Menag menekankan visi keberlanjutan lingkungan hidup melalui perspektif teologis.

“Pihak kami menegaskan signifikansi dari konsep yang kami sebut ekoteologi dalam kerangka ini, yakni sebuah perspektif yang memahami korelasi antara manusia dengan lingkungan hidup berlandaskan asas amanah serta tanggung jawab moral,” paparnya.

Menurut Menag, Islam memandang bumi sebagai titipan Ilahi, bukan milik mutlak manusia. Oleh karena itu, pembangunan peradaban tidak akan pernah mencapai kesempurnaan tanpa adanya upaya menjaga keseimbangan alam.

Ia menegaskan bahwa profesi apa pun yang merusak keseimbangan ekologis sejatinya telah melenceng dari hakikat ibadah.

Mengutip pemikiran tokoh Aljazair, Malik bin Nabi, Menag menyepakati bahwa peradaban bukan sekadar tumpukan kemajuan materi atau teknologi.

Peradaban adalah bangunan kemanusiaan yang utuh, yang mempersatukan manusia, tanah, dan waktu melalui dorongan spiritual.

Ia menyoroti bahwa masalah keterbelakangan tidak bisa selesai hanya dengan mengimpor teknologi canggih. Solusi sejatinya terletak pada perbaikan kualitas manusia dan penguatan relasi dengan nilai-nilai luhur.

“Kebangkitan peradaban hanya akan terjadi saat nurani manusia mampu menjaga dan membangun semangat keagamaan—bukan sebagai sebuah ritual yang kaku, namun sebagai energi etis yang mampu mengontrol perilaku, memerdekakan akal, serta mengarahkan insting manusia,” ujar Menag Nasaruddin Umar.

Ia memperingatkan bahwa tanpa nilai-nilai tersebut, naluri manusia akan bergerak liar tanpa kendali, yang pada akhirnya menyebabkan hilangnya kompas etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Memasuki isu modernitas, Menag melihat bahwa tantangan terbesar era AI bukanlah kecanggihan algoritma, melainkan bagaimana menjaga sisi kemanusiaan agar tetap hidup.

Dunia saat ini tidak hanya memerlukan tenaga kerja yang cerdas secara teknis, tetapi juga individu yang memiliki etika dan nurani yang aktif.

Di Indonesia, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, pemerintah berupaya mengintegrasikan pendidikan agama dengan nilai-nilai profesionalisme.

Menag memberikan perhatian khusus pada bagaimana otoritas pengetahuan agama berinteraksi dengan kecerdasan buatan.

“Berbagai diskusi ilmiah yang mendalam bersama para ulama serta pemikir besar di Indonesia memberikan penegasan bahwa kecerdasan buatan—betapapun hebat kemampuan analisis yang dimilikinya—tetap tidak mampu menggantikan nurani religius, ijtihad manusia, maupun referensi etika. AI harus tetap berfungsi sebagai instrumen pembantu, bukan menjadi sumber yang berdiri sendiri atau pengganti bagi fatwa dan panduan keagamaan,” jelasnya.

Pakar dan ulama di Indonesia menekankan bahwa kunci utama terletak pada regulasi dan kendali penggunaan AI. Manusia dengan akal dan tanggung jawab etisnya harus tetap memegang kendali kepemimpinan.

Agama harus tetap menjadi sumber hidayah yang memberikan makna mendalam, bukan sekadar data yang diolah menjadi jawaban-jawaban mekanis oleh mesin.

Otoritas keagamaan di masa depan bukan lagi sekadar otoritas teknis, melainkan otoritas ilmiah dan moral yang mampu memadukan teks, akal, realitas, dan maqashid syariah, disertai kesadaran mendalam atas transformasi zaman dan pertanyaan-pertanyaan aktual.

Dunia saat ini sedang mengalami krisis nilai di tengah banjir keahlian teknis. Menag menutup paparannya dengan sebuah pesan kuat bahwa kemajuan akal harus dibarengi dengan kekokohan akhlak.

“Dunia kita pada saat ini tidak mengalami kekurangan tenaga ahli, namun justru kekurangan nilai-nilai yang menjadi pemandu bagi keahlian tersebut. Global tidak hanya membutuhkan kemajuan akal, melainkan juga memerlukan fondasi akhlak yang kuat, tanggung jawab terhadap peradaban, serta visi kemanusiaan yang komprehensif,” pesannya.

Reporter Gita Esa Hafitri
Editor Gita Esa Hafitri