AYOJAKARTA.COM – Akibat adanya proses tumbukan antar lempeng tektonik di zona subduksi, peristiwa tersebut akan membawa dampak terjadinya Gempa Megathrust.
Kata Gempa Megathrust berasal dari dua suku kata yakni Mega atau berarti berarti besar dan Thrust yang memiliki makna dorongan.
Masih menjadi sorotan masyarakat dunia khususnya Indonesia, Gempa Megathrust secara sederhana dapat diartikan sebagai jenis gempa besar yang terjadi akibat adanya dorongan.
Termasuk dalam kawasan yang disebut sebagai Cincin Api, negara kepulauan Indonesia berada diantara pertemuan antara lempeng benua dan samudera.
Pertemuan dari kedua lempeng yang terjadi secara berkelanjutan, akan mencapai titik jenuh sehingga menimbulkan tekanan besar atau Gempa Megathrust.
Kekhawatiran potensi gempa Megathrust di Indonesia mulai semakin mengental usai Nankai, Jepang mengalami gempa dengan Magnitudo 7,1 pada Jumat, 8 Agustus 2024.
Baca Juga: Ungkap Keburukan dan Kelemahanmu dari Gambar Ini, Awan atau Balon Udara?
Berangkat dari gempa nankai di Jepang yang membawa dampak Tsunami, ilmuwan memberikan sinyal agar Indonesia lebih mewaspadai potensi Megathrust.
Terlebih karena aktivitas di lempeng Mentawai-Siberut serta Selat Sunda relatif sudah berusia ratusan tahun, sehingga tabungan energi dorong menjadi besar.
Berdasarkan catatan sejarah, rentang waktu penyimpanan energi Megathrust di Selat Sunda sudah mencapai usia 267 tahun sementara Mentawai 227 tahun.
Sehubungan dengan adanya potensi gempa Megathrust akibat aktivitas tektonik, sejumlah wilayah di Indonesia juga dapat berpotensi terancam dampaknya.
Baca Juga: Tes IQ: Yakin Bisa Menebak Angka Berbeda dari Kumpulan 3374 dalam 5 Detik? Tunjukkan Ketelitianmu
Sebagai salah satu acuan untuk melakukan langkah-langkah pencegahan, berikut adalah daftar wilayah yang berpotensi terdampak Megathrust.
Wilayah pertama adalah Zona Megathrust Aceh-Andaman dengan potensi kekuatan gempa mencapai skala 9,2 Magnitudo.
Wilayah berikutnya yang juga berpotensi mengalami gempa besar adalah Zona Megathrust Nias-Simeulue dengan skala potensi 8,9 Magnitudo.
Zona Megathrust Batu dengan skala 8,2 Magnitudo, Zona Megathrust Mentawai-Siberut dengan skala 8,7 Magnitudo, Mentawai-Pagai dengan skala 8,9 Magnitudo.
Wilayah keenam adalah Zona Megathrust Enggano dengan ancaman skala 8,8 Magnitudo, Selat Sunda dengan 8,8 Magnitudo, Jawa Barat dengan skala 8,8 Magnitudo.
Zona Megathrust Jawa Tengah dan Timur dengan potensi ancaman 8,9 Magnitudo, Bali dengan skala 9,0 Magnitudo serta Zona Megathrust NTB dengan skala 8,9 Magnitudo.
Baca Juga: UMM dan UMY Ungguli Unesa! 30 Perguruan Tinggi Terbaik versi Webometrics Impact and Excellent 2024
Selain itu, potensi ancaman gempa Megathrust juga tercatat di NTT dengan skala 8,7 Magnitudo, Laut Banda Selatan dengan 7,4 Magnitudo.
Zona Megathrust Laut Banda Utara dengan potensi skala mencapai 7,9 Magnitudo, Lempeng Filipina dengan 8,2 serta terakhir Sulawesi Utara dengan 8,9 Magnitudo.