AYOJAKARTA.COM - Diktutip dari World Economic Forum, pekan lalu, gangguan TI besar-besaran mengganggu bisnis dan pemerintahan di seluruh dunia, menyoroti kebutuhan penting untuk ketahanan siber di dunia digital yang semakin berkembang.
Insiden ini, yang disebabkan oleh patch yang bermasalah dari penyedia keamanan siber terkemuka, telah menarik perhatian pada pentingnya mempersiapkan dan memulihkan diri cipatakan ketahanan siber.
Insiden
Pembaruan yang cacat pada perangkat lunak keamanan berbasis cloud CrowdStrike, Falcon, memicu kegagalan fungsi yang memengaruhi 8,5 juta perangkat Microsoft Windows.
Hal ini menyebabkan gangguan yang meluas di berbagai sektor, termasuk maskapai penerbangan, bank, penyiar, penyedia layanan kesehatan, dan terminal pembayaran ritel.
Perkiraan biaya gangguan tersebut lebih dari 17 triliun Rupiah. Meskipun CrowdStrike melaporkan bahwa banyak perangkat telah kembali online, insiden tersebut menggarisbawahi kerentanan infrastruktur digital.
Pentingnya Ketahanan Siber
Peristiwa ini berfungsi sebagai pengingat penting bahwa keamanan siber bukan hanya masalah TI tetapi aspek mendasar dari ketahanan bisnis.
Ketahanan siber melibatkan kemampuan untuk mempersiapkan, menahan, dan memulihkan diri dari insiden siber dengan cepat dan efektif.
Baik gangguan disebabkan oleh serangan siber atau kesalahan yang tidak disengaja, bisnis dan pemerintah harus diperlengkapi untuk mempertahankan operasi penting selama kejadian tersebut.
Baca Juga: Waspada Marak Kasus Kejahatan Siber, BRI Beberkan Cara Antisipasi Serangan Siber Quishing
Langkah-Langkah untuk Meningkatkan Ketahanan Siber
1. Identifikasi Proses Penting: Organisasi perlu menentukan proses penting bagi bisnis dan memastikan keberlanjutannya selama insiden siber.
Ini memerlukan komunikasi berkelanjutan dengan pimpinan bisnis untuk menyelaraskan langkah-langkah keamanan siber dengan strategi bisnis secara keseluruhan.
2. Terapkan Berbagai Metode: Bisnis harus menggunakan berbagai teknik untuk mendeteksi, menahan, dan memulihkan diri dari gangguan siber.
Ini termasuk memiliki rencana respons insiden yang kuat dan melakukan latihan keamanan siber secara berkala.
3. Adopsi Pandangan Sistemik: Insiden tersebut juga menekankan perlunya mempertimbangkan ketahanan sistemik.
Karena bisnis semakin bergantung pada penyedia perangkat lunak keamanan yang canggih, satu titik kegagalan dapat memiliki efek global yang berjenjang.
Menyeimbangkan sistem yang tersentralisasi dan sangat terlindungi dengan alternatif yang terdesentralisasi dan berdampak lebih rendah sangatlah penting.
Baca Juga: Wajib Tahu! Lakukan Langkah Pengamanan Ini di WhatsApp Anda Agar Tak Jadi Korban Kejahatan Siber
Upaya Kolaboratif
Pusat Keamanan Siber Forum Ekonomi Dunia, bekerja sama dengan Pusat Kapasitas Keamanan Siber Global (GCSCC) Universitas Oxford, tengah menggarap Prakarsa Cetak Biru Ketahanan Siber.
Prakarsa ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka kerja komprehensif guna mendukung organisasi dalam meningkatkan ketahanan siber mereka.
Dengan mempertemukan para pemimpin keamanan siber dari berbagai industri, prakarsa ini berupaya menciptakan pemahaman bersama dan mensistematisasi praktik ketahanan siber yang efektif.
Kesimpulan
Seiring dengan semakin kompleksnya dan tidak terpisahkan dari semua sektor bisnis dan masyarakat, pentingnya ketahanan siber akan terus tumbuh.
Gangguan TI global baru-baru ini menjadi pengingat yang jelas bahwa dunia harus memprioritaskan dan meningkatkan kemampuan untuk pulih dari gangguan siber, guna memastikan keberlanjutan dan keamanan dunia digital.***