AYOJAKARTA.COM - Selama konflik yang terus berlangsung di Gaza, Israel telah menghilangkan salah satu orang yang paling berani dalam dunia jurnalisme, Hossam Shabat.
Wartawan muda berusia 23 tahun, Hossam Shabat gugur dalam serangan udara Israel di Beit Lahia, Gaza utara, pada 24 Maret 2025.
Jurnalis yang penuh dedikasi ini lahir pada 10 Oktober 2001 di Beit Hanoun Palestina.
Hossam begitu sapaan akrabnya, Dia tumbuh dengan impian besar untuk menyuarakan kebenaran dan membela rakyat Palestina.
Sebelum konflik memanas Hossam bercita-cita mendirikan perusahaan media dan pemasaran serta memiliki restoran sendiri.
Sayangnya impian itu harus hancur akibat agresi militer Israel di Gaza beberapa waktu lalu.
Selama 18 bulan terakhir Hossam mendedikasikan hidupnya untuk meliput realitas pahit di Gaza.
Sebagai koresponden Al Jazeera Mubasher, ia tak kenal lelah mendokumentasikan banyak hal pahit yang dialami rakyat Palestina.
Hingga harus menahan lapar, tidur di trotoar, sekolah, dan tenda demi menyampaikan kebenaran kepada dunia.
Lucunya Oktober 2024, militer Israel pernah menuduh dan mencari-cari alasan kepada enam jurnalis Palestina.
Termasuk Hossam juga dituduh sebagai anggota kelompok militan Hamas dan Jihad Islam.
Al Jazeera membantah keras tuduhan ini dan menyebutnya hanya sebagai upaya untuk membenarkan pembunuhan jurnalis di Gaza
Baca Juga: 7 Destinasi Wisata Jakarta Barat! Pilihan Seru untuk Libur Lebaran 2025
Sebelum kematiannya, Hossam meninggalkan pesan yang menggugah sangat menggugah hingga diretwet oleh berbagai jurnanlis diseluruh dunia.
"Jika Anda membaca ini, itu berarti saya telah terbunuh kemungkinan besar menjadi target oleh pasukan pendudukan Israel.Ketika semua ini dimulai, saya baru berusia 21 tahun seorang mahasiswa dengan mimpi seperti orang lain. Selama 18 bulan terakhir saya mendedikasikan setiap momen hidup saya untuk rakyat saya."
Dalam pesannya itu Shabat menegaskan bahwa ia telah memenuhi tugasnya sebagai jurnalis dengan mempertaruhkan segalanya demi mengungkap kebenaran.
Tidak hanya itu, Ia juga mengungkapkan kebanggaannya dalam berjuang untuk Palestina.
"Saya meminta Anda sekarang: jangan berhenti berbicara tentang Gaza. Jangan biarkan dunia berpaling. Terus berjuang, terus ceritakan kisah kami hingga Palestina merdeka, Saya meminta Anda sekarang jangan berhenti berbicara tentang Gaza. Jangan biarkan dunia berpaling berjuang, terus ceritakan kisah kami hingga Palestina merdeka."
Baca Juga: Tata Cara, Niat dan Bacaan Salat Idul Fitri di Rumah Berjamaah atau Sendiri
Kematian Hossam menambah daftar panjang jurnalis yang tewas dalam konflik ini.
Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) melaporkan bahwa lebih dari 170 jurnalis dan pekerja media telah kehilangan nyawa sejak perang dimulai.
Al Jazeera mengutuk keras pembunuhan ini, menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran keras terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia. ***