AYOJAKARTA.COM - Militer Israel mengatakan penembakan Mohammed al-Tamimi, bocah Palestina berusia dua tahun terjadi secara tidak sengaja oleh tentaranya.
Tentara Israel salah mengira balita Palestina dan ayahnya, Haitham al-Tamimi adalah orang-orang bersenjata yang melarikan diri setelah menembak ke arah pemukiman Tepi Barat yang diduduki secara ilegal di Neve Tzu.
"Selama pencarian, dia melihat kendaraan yang mencurigakan dan menembak beberapa kali ke udara yang melanggar perintah," kata tentara Israel sebagaimana dikutip Al Jazeera.
"Secara bersamaan, seorang tentara yang ditempatkan di pos jaga mengidentifikasi dua sosok yang masuk ke dalam kendaraan, mengira mereka adalah teroris yang melarikan diri dari tempat kejadian dan mereka menembaki dia dari kendaraan. Setelah mendapat izin dari komandannya, prajurit tersebut menembakkan beberapa peluru ke arah kendaraan tersebut," lanjut pernyataan tersebut.
Atas kejadian tersebut, militer Israel akan menegur tentara yang telah menembak ke udara dan mengatakan pasukannya akan terus belajar dan berkembang.
Sementara itu, Haitham selaku ayah Mohammed menceritakan kronologi yang berbeda dengan yang dikatakan militer Israel.
Haitham mengatakan di hari kejadian pada 2 Juni 2023, dia membawa putranya ke pesta ulang tahun keponakannya. Namun peluru dari pasukan Israel menghujani mereka.
Ibunya, Marwa al-Tamimi, berada di dekatnya dan mendengar suara tembakan.
"Saya berlari keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi," kata Marwa.
"Suami saya berteriak selama penembakan lanjutan saat mengemudi, berkata, 'Hamoudi, Hamoudi' [mengacu pada putra kecilnya]," tambahnya.
Haitham juga terluka dalam insiden tersebut dan dibawa ke rumah sakit di Ramallah, sementara putranya diangkut ke rumah sakit Sheba Israel dengan helikopter di mana dia meninggal karena luka-lukanya lima hari kemudian.
Pekan lalu, ratusan pelayat Palestina berkumpul di Ramallah untuk menguburkan balita itu.
Kementerian Luar Negeri Palestina menuntut pertanggungjawaban atas kematian tersebut dan menganggap insiden itu sebagai kejahatan.
Adapun ketegangan di Tepi Barat tinggi karena Israel telah memperluas serangan militernya hampir setiap malam di wilayah pendudukan di bawah pemerintahan sayap kanannya.
Sejak awal 2023, pasukan Israel telah menewaskan sedikitnya 158 warga Palestina, termasuk 26 anak-anak, menurut kantor berita Wafa.
Baca Juga: HEBOH! Burung Gagak Terbang Lepas Bendera Israel dari Tiang, Benar Kuasa Allah?
Korban tewas juga termasuk 36 warga Palestina yang dibunuh oleh tentara Israel selama serangan empat hari di Jalur Gaza yang terkepung dari 9 hingga 13 Mei.
Lebih dari 700.000 orang Israel tinggal di permukiman di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki, yang direbut Israel dalam Perang 1967.