AYOJAKARTA.COM – Proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) telah berhasil mendapatkan potensi investor asing untuk pembiayaan pembangunan yang dibutuhkan.
Investor asing tersebut berasal dari Malaysia, dibalik niatnya berinvestasi pada IKN ternyata Malaysia memiliki tujuan tertentu.
Proyek IKN yang membutuhkan dana sekitar Rp466 triliun dikabarkan bahwa 81% proyek IKN bergantung pada dana luar.
Melalui perjanjian bilateral Indonesia – Malaysia, terdapat beberapa kesepakatan yang dibahas dengan salah satu poin adalah potensi Malaysia untuk menjadi investor IKN.
Pertemuan bilateral tersebut dihadiri oleh Presiden Jokowi dan Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim pada Senin (9/1/2023).
Perdana Menteri Malaysia menyatakan ketertarikannya pada progam IKN dan secara inisiatif Malaysia bersedia menjadi investor.
“Permulaan menunjukkan sikap kita yang terbuka dan juga publik sektor ialah IKN Nusantara dan dengan inisiatif MITI di Malaysia kita telah menyaksikan semalam dan hari ini,” ujar Seri Anwar Ibrahim.
Seri Anwar Ibrahim mengaku Malaysia memiliki kepentingan tertentu terutama untuk wilayah Sabah dan Serawak.
“Satu usaha yang lebih positif dan agresif Malaysia. Karena ada kepentingan Malaysia juga terutama di Sabah dan Serawak, kedekatannya dan kepentingan ekonomi wilayah yang sangat bermakna,” kata Seri Anwar Ibrahim.
Tujuan Malaysia berani untuk berinvestasi pada progam IKN adalah karena letak IKN bisa dinilai dekat dengan wilayah Malaysia, yang nantinya pertumbuhan ekonomi di IKN akan berdampak juga pada wilayah Malaysia.
Seri Anwar Ibrahim juga mengakui bahwa ide tentang IKN sangat baik dan dianggap akan berdampak positif terhadap wilayah Serawak dan Sabah.
Bahkan Perdana Menteri Malaysia sendiri mengaku tidak bisa memiliki ide seperti IKN yang akan berpengaruh baik ke Malaysia.
“Rekan-rekan saya di Serawak dan Sabah memuji inisiatif ini, dan saya beri tahu tadi itu inisiatif besar Bapak Presiden (Jokowi) itu memposisikan dibandingkan apa yang saya mampu lakukan untuk Sabah dan Serawak,” ucap Seri Anwar Ibrahim.
Selain membicaran tentang ivestasi pada IKN, Presiden Jokowi dan Perdana Menteri Malaysia juga membahas sejumlah MoU di bidang perkapalan, pembiayaan ekspor-impor, energi hijau, pengembangan industri baterai, dan juga yang lain-lainnya.
Ada pun juga perjajian yang menyebutkan bahwa Malaysia akan memberikan perlindungan terhadap pekerja migran Indonesia dan diharapkan perekrutannya bisa melalui satu pintu.
Serta permintaan dari Presiden Jokowi untuk pembangunan pusat pendidikan di Semenanjung demi menunjang hak pendidikan dari anak-anak pekerja migran Indonesia.
Poin selanjutnya dalam perjanjian bilateral ini adalah mengenai MoU perbatasan wilayah antara Indonesia dan Malaysia, dilansir AyoJakarta.com dari kanal YouTube Metro TV (11/1/2023).***