Jakarta Pusat

Marak Klaim Antivirus Corona, YLKI Minta Masyarakat Diedukasi Soal Obat dan Jamu

Oleh: Admin Senin 10 Agu 2020, 16:23 WIB
[Ilustrasi] BPOM tegaskan obat Covid-19 saat ini masih dalam uji klinis, belum diedarkan ke masyarakat. (ist)

GAMBIR, AYOJAKARTA.COM -- Yayasan Layanan Konsumen Indonesia (YLKI) mendorong Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meningkatkan literasi masyarakat soal obat dan jamu herbal. Hal ini menyusul maraknya informasi soal obat Covid-19 yang beredar di sosial media.

Hal itu disampaikan Ketua Pengurus Harian Yayasan Layanan Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi dalam telekonferensi pers melalui akun Facebook YLKI, Senin (10/8/2020).

Tulus berpendapat, jika masyarakat teredukasi mengenai obat dan jamu herbal, maka tidak akan terkecoh oleh informasi yang menyesatkan.

AYO BACA : Contoh Buruk Pemerintah Jadi Penyebab Maraknya Klaim Obat Covid-19

"Kita mendorong agar badan POM atau Kementerian Kesehatan atau pihak-pihak lain meningkatkan literasi masyarakat atau konsumen terkait produk obat atau jamu herbal. Sehingga masyarakat mengerti apa yang diiklankan adalah bohong atau klaim obat covid itu bohong dan tidak bisa menyembuhkan," kata Tulus.

YLKI juga meminta BPOM bekerja sama dengan platform digital atau media sosial serta Kementerian Kominfo untuk memberantas konten misinformasi terkait obat Covid-19. Langkah ini menurut Tulus sebagai upaya melindung konsumen dari pihak-pihak yang ingin meraup keuntungan.

"Badan POM harus bersinergi secara masif dengan platform digital atau dengan Kementerian Kominfo sehingga kalau ada iklan-iklan yang liar mengenai obat bisa langsung takedown. Kita harus melindungi konsumen dari klaim-klaim obat yang bisa membahayakan," jelasnya.

AYO BACA : Harga Masker Melambung saat Pandemi, Masyarakat Mengadu ke YLKI

Tulus khawatir jika obat atau jamu yang diklaim dapat mengobati atau mencegah Covid-19 justru membahayakan konsumen. Menurutnya, obat itu bisa saja dicampur dengan bahan kimia yang tidak sesuai dengan penggunaannya.

"Kita khawatir, kalaupun mereka sembuh dengan obat itu, yang sering terjadi karena obat itu karena belum teregistrasi Badan POM atau apapun, kita takut obat itu dicampur oleh obat kimia. Ini justru bisa membahayakan dari sisi keselamatan," jelasnya.

Oleh sebab itu, Tulus mengimbau kepada masyarakat agar berhati-hati jika menemukan adanya obat atau jamu yang disebut bisa menyembuhkan Covid-19. Sampai saat ini, ujarnya, organisasi kesehatan dunia (WHO) atau negara manapun belum ada yang menemukan obat paten untuk virus yang berasal dari China itu.

"Saya kira masyarakat juga perlu sangat hati-hati kalau ada klaim obat penyembuh Covid karena secara internasional, WHO atau negara manapun belum ada yang mengklaim adanya obat atau vaksin yang bisa menyembuhkan Covid-19," terangnya.

"Sejauh pantauan kita, obat atau herbal yang ada hanyalah untuk menguatkan imunitas. Jadi bukan untuk menyembuhkan Covid-19," ujar Tulus.

AYO BACA : Jangan Mudah Percaya, Kata BPOM Semua Obat Covid-19 Masih Uji Klinis

Reporter Admin
Editor Budi Cahyono