Jakarta Pusat

Polemik POP, Yoyok Sukawi: Kemendikbud Harus Berani Batalkan Hibah ke Perusahaan Besar

Oleh: Admin Kamis 30 Jul 2020, 13:01 WIB
Anggota Komisi X DPR RI, Yoyok Sukawi. (dok)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Belakang ini, program yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yakni Program Organisasi Penggerak (POP) menuai kritikan dari kalangan masyarakat.

Penyebabnya tak lain karena Kemendikbud memasukkan Sampoerna Foundation dan Tanoto Foundation ke dalam daftar penerima dana bantuan POP yang angkanya mencapai Rp20 miliar per tahun.

Dampak dari polemik POP, tiga organisasi besar yakni NU, Muhammadiyah, serta PGRI memilih menarik diri dari program tersebut karena menilai kurang rasional.

AYO BACA : DPR Sebut POP Bikin Gaduh Dunia Pendidikan

Menurut salah satu anggota Komisi X DPR RI, Yoyok Sukawi, Kemendikbud yang dipimpin Nadiem Makarim harus lebih bijak dalam mengelola anggaran POP. Pasalnya Sampoerna Foundation dan Tanoto Foundation merupakan program CSR yang dikelola sebuah kooperasi besar.

Apalagi beberapa waktu lalu Kemendikbud juga baru saja memberhentikan tunjangan profesi terhadap guru di Indonesia.

“Di situasi seperti ini, Kemendikbud harusnya lebih bijak. Kemarin baru saja melakukan rasionalisasi APBN karena dampak Pandemi Covid dengan mengurangi tunjangan profesi guru, ini justru mau memberi bantuan untuk program dari perusahaan besar. Dana puluhan miliar itu lebih baik untuk kesejahteraan guru,” tutur Yoyok Sukawi, Kamis (20/07/20).

AYO BACA : Komisi X Minta Nadiem Blak-blakan soal Dana POP

“Kalau menurut saya ini tidak masuk akal karena program dari perusahaan besar malah mendapatkan hibah yang dananya dari APBN, padahal masih banyak penggerak pendidikan di Indonesia yang membutuhkan perhatian,” imbuh Legislator Partai Demokrat ini.

Yoyok Sukawi juga menambahkan bahwa dalam waktu dekat ini Komisi X akan segera memanggil Nadiem Makarim untuk menjelaskan polemik POP ini ke wakil rakyat.

Pria asal Dapil I Jawa Tengah ini juga meminta Nadiem Makarim untuk berani memberhentikan program tersebut walaupun mantan CEO Gojek ini sudah menyampaikan permintaan maaf kepada organisasi besar seperti NU, Muhammadiyah, dan PGRI.

“Kemendikbud harus berani membatalkan hibah ke CSR dua perusahaan besar ini. Kalau sekadar minta maaf saya rasa tidak cukup,” pungkas Yoyok Sukawi.

AYO BACA : Jabatan Menteri Pendidikan Banyak Tekanan, Nadim Akui Frustasi

Reporter Admin
Editor Budi Cahyono