GAMBIR, AYOJAKARTA.COM -- Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengungkapkan pentingnya meningkatkan kapasitas pemeriksaan Covid-19. Menurutnya, salah satu upaya memutus rantai penyebaran Covid-19 adalah dengan memperbanyak pemeriksaan.
"Dalam situasi pandemi Covid-19 striker terdepan itu adalah laboratorium. Karena kita mengumpulkan sampel, lab melakukan testing. Apa yang kita lakukan? Kita mengumpulkan semua laboratorium di Jakarta. Alhamdulillah semua sumber daya diinventarisir," kata Anies dalam diskusi daring Rakyat Merdeka TV, Sabtu (25/7/2020).
Meski begitu, Anies menceritakan sempat mengalami kesulitan saat mengkoordinir laboratorium di Jakarta untuk meningkatkan kapasitas pemeriksaan. Kala itu Anies ingin semua laboratorium di Jakarta masuk dalam satu sistem yang dikelola Pemprov DKI Jakarta.
"Di awal itu susahnya luar biasa, betul betul ini salah satu yang lebih menantang. Karena apa? Karena alatnya beda beda, cara kerjanya beda, kebiasaannya beda, lembaganya beda ada yang swasta dan ada yang pemerintah. Nah itu akhirnya dikonsolidasikan semua dalam satu sistem yang dikelola oleh Pemprov DKI," ungkap Anies.
"Anggarannya kemudian kita siapkan, orangnya disiapkan, materialnya disiapkan. Akhirnya terkumpul jejaring 41 lab, dan sekarang malah sudah jadi 48 lab dalam satu jaringan," imbuhnya.
Setelah sistem koordinasi laboratorium di Jakarta berjalan, jumlah pemeriksaan sampel pun terus meningkat. Anies mengatkan, saat ini di Jakarta sudah mampu melakukan pemeriksaan sampel sebanyak 9.769 per hari.
"Begitu masyarakat mulai transisi berkegiatan, maka kita harus bisa mendeteksi siapa yang positif siapa yang tidak. Nah kami memilih untuk meningkatkan testing. Kalau diperhatikan sejak juni kemarin, testing kita per hari makin tinggi," ujarnya.
Anies mengklaim bahwa jumlah pemeriksaan Covid-19 di Jakarta sudah melebihi standar minimal yang ditentukan organisasi kesehatan dunia (WHO). Seminggu terakhir, kata Anies, Jakarta sudah memeriksa 39.268 orang. Angka ini menurutnya akan terus ditingkatkan.
"Sementara WHO, menyaratkan untuk Jakarta per minggu hanya 11 ribu testing. Artinya kami sudah hampir 4 kali lipat dari apa yang diharuskan oleh WHO. Kenapa itu dilakukan? Untuk bisa menemukan yang positif lalu agar dia bisa isolasi," ujarnya.