Jakarta Pusat

Predator Seksual Francois Abello Bunuh Diri, Begini Pendapat Pakar Psikologi Forensik

Oleh: Admin Selasa 14 Jul 2020, 10:52 WIB
Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya mengungkap kasus eksploitasi secara ekonomi dan atau seksual (child sex groomer) terhadap 305 anak di bawah umur yang dilakukan seorang warga negara Perancis bernama Francois Abello Camille alias FAC (65). (Suara.com/M Yasir)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM – Kabid Dokkes Polda Metro Jaya Kombes Pol Umar Shahab mengatakan, Francois Abello tewas bunuh diri menggunakan kabel yang berada dalam sel tahanan. Lelaki usia 65 tahun itu merupakan predator seksual yang menyasar anak dan diancam hukuman mati.

Pedofilia asal Prancis tersebut sempat dirawat selama tiga hari di rumah sakit, namun tidak selamat. Ia tewas pada Minggu (12/7/2020) pukul 20.00 WIB, ia dinyatakan sudah tak bernyawa.

AYO BACA : Gapai Kabel dalam Sel Tahanan, Predator Seksual Francois Abello Tewas Bunuh Diri

Menanggapi tewasnya Francois Abello karena bunuh diri, pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel mengingatkan, aksi bunuh diri di kalangan pelaku lebih tinggi dari pada masyarakat umum.

"Bunuh diri di kalangan pelaku memang tinggi. Sekitar 180 kali lebih tinggi dari pada bunuh diri pada masyarakat umum," ujar Reza dalam keterangan tertulisnya yang diterima Republika.co.id, Senin (13/7/2020).

AYO BACA : 350 Anak Korban Pencabulan Francois Abello Camille Akan Direhabilitasi

Menurut Reza, kondisi ini memberikan pemahaman bahwa aparat penegak hukum perlu memperlakukan pelaku kejahatan serupa dengan pendekatan khusus. Maka harus diwaspadai jangan sampai pelaku lainnya, termasuk pelaku WNA melakukan aksi fatal serupa.

Sementara untuk korban eksploitasi berhak memperoleh perlindungan khusus dari negara dan restitusi atau ganti rugi dari pelaku. Tapi kalau pelaku tidak mampu, misalnya karena mati, sejumlah negara memberlakukan kompensasi.

Kewajiban membayar ganti rugi bisa dialihkan kepada negara. "Ini merupakan bentuk sanksi atas kegagalan negara melindungi warganya, dalam hal ini adalah anak-anak," ungkapnya.

Karena itu, Reza mengatakan, perlu menyikapi pelaku eksploitasi seksual anak bukan sebagai lone wolf.  Melainkan sebagai bagian dari jaringan pedofilia internasional, maka perlu dipastikan pelaku bukan dibunuh. Misalnya, dibunuh oleh sindikat internasional.

Jika mereka menggunakan cryptocurrency sebagai alat transaksi, kemungkinan penelusurannya tidak mudah. "Tapi semoga kepolisian tetap bisa membongkar lebih jauh pergerakan jaringan jahat internasional dan sebagainya," tutup Reza.

AYO BACA : Tak Kooperatif Ratusan Anak Korban Pencabulan Francois Abello Sulit Diidentifikasi

Reporter Admin
Editor Budi Cahyono