AYOJAKARTA.COM -- Kala itu perang tengah berkecamuk di Madinah. Pasukan muslimin menjaga pos-pos tertentu di Madinah dan bersiap apabila Pasukan Abu Sofyan mendekat dan bisa menyerang kapan saja.
Adalah Hanzhalah bin Abu Amir, anak pemimpin suku Aus yang terbilang kaya di Yastrib (Madinah) pada masa menjelang hijrahnya Nabi Muhammad ke sana.
Ayahnya, Abu Amir bin Shaify, orang yang sangat benci kepada Islam. Pada zaman jahiliyah, dia mendapat julukan Abu Amir Sang Pendeta, tetapi julukan itu berbalik menjadi Abu Amir lelaki Fasik ketika Yastrib sudah dikuasai oleh kaum muslim.
Pernah dengan angkuh Abu Amir berkata, “Jika aku menyeru kaumku yang sudah masuk Islam, mereka pasti akan mengikutiku dan bergabung dengan kaum Quraisy.”
Tapi baru saja mulutnya menyebutkan nama dirinya, “Wahai bani Aus, aku Abu Amir..”, orang-orang Aus yang muslim menimpali, “Wahai lelaki fasik, Allah tidak akan memberkatimu!”
Mereka mengucapkan kalimat itu sambil melancarkan serangan yang menyebabkan Abu Amir melarikan diri. Nah, di antara penyerang itu, adalah anaknya sendiri, Hanzhalah.
Hanzhalah bin Abu Amir yang telah masuk Islam, mengetahui bahwa esok paginya akan menghadapi pasukan musuh dalam perang Uhud, malam harinya melakukan prosesi pernikahan.
Sebuah keputusan yang terlampau tenang untuk meminang seorang Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul, anak sahabat bapaknya. Padahal di pagi harinya dia akan membela kaum muslimin bertarung melawan kaum kafir Quraisy. Memiliki niat untuk membahagiakan Jamilah, Hanzhalah Bin Amir meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bermalam bersama istri yang baru ia nikahi.
Hanzhalah sendiri tidak tahu apakah keputusannya untuk menemani istrinya itu merupakan awal atau akhir. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun pada akhirnya memberinya izin kepada Hanzhalah untuk menginap malam itu bersama pengantin yang baru ia nikahi.
Panggilan Perang Hanzhalah bin Abu Amir
Layaknya pasangan pengantin baru. Hanzhalah dan Jamilah pun menghabiskan malam berdua. Mencurahkan segala macam rasa cinta dan suka dalam dekapan mesra yang meluap luap dari kakike ujung kepala. Malam itu adalah malam yang sempurna, Hanzhalah bin Amir merasa bahagia karena berhasil menikahi seorang yang dicintainya.
Hingga pada suatu titik di kala fajar, panggilan berperang menggema di seluruh langit Madinah. Terdengar sayup-sayup seorang yang berseru dan mengumandangkan panggilan perang. Suara itu semakin keras dan semakin keras. Tidak ada lagi yang bisa mengelak dari fakta bahwa pasukan Abu Sofyan sudah berbaris di luar kota Madinah dan bersiap untuk menyerang.
Saat suara tersebut sampai ke telinga Hanzhalah. Tanpa berpikir dua kali, Hanzhalah langsung melepas dekapan dari sang istri. Mengambil zirah dan [edangnya, dia lalu keluar dan berjalan menuju jalan jihadnya. Jamilah yang menyadari suaminya menerima panggilan jihad, pun dengan tergesa-gesa langsung ikut keluar dari rumahnya. Sembari menatap punggung suami yang dinikahinya beberapa jam yang lalu, dia pun mendoakan kepada Allah jalan yang terbaik untuknya.
Berperang Dalam Keadaan Junub
Serangan yang tiba-tiba, dan seruan yang membuat Hanzhalah tidak ingat mandi wajib. Lantas tidak mengakibatkan Hanzhalah hilang semangat. Dengan keadaan Junub (selesai berhubungan badan dengan sang istri) dia pun segera bergabung dengan pasukan Rasulullah. Dalam perang yang lebih kita kenal dengan perang Uhud tersebut, Rasulullah mengkomandokan untuk bertahan sebisa mungkin.
Menghalau segala serangan sembari mengarahkan panah-panah untuk menghujani pasukan Abu Sofyan. Pada serangan gelombang pertama, pasukan muslimin berhasil menggagalkan serangan pasukan musuh, namun sayangnya, para pasukan pemanah tidak menghiraukan amanah Rasulullah untuk tetap berada di pos masing-masing.
Pasukan pemanah tersebut dengan sengaja turun dari perbukitan dan ikut mengumpulkan harta rampasan perang dari para pasukan kafir Abu Sofyan yang sudah mati. Hal ini mengakibatkan turunnya penjagaan dan berkurangnya pengawasan beberapa sektor. Hingga pada akhirnya, kaum muslimin tidak menyadari serangan lanjutan yang datang dari arah belakang.
Tidak butuh waktu lama hingga pada akhirnya pasukan muslimin terpojok. Serangan tak terduga itu tidak bisa diantisipasi hingga pada akhirnya mengakibatkan banyaknya korban yang berjatuhan di kubu kaum muslimin. Meskipun begitu, kaum muslimin yang tersisa bertahan sekuat tenaga. Mencoba sebisa mungkin melindungi Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak terbunuh.
Bahkan dalam pertahanan tersebut, sosok wanita seperti Nuzaibah binti Ka’ab juga ikut ambil bagian dalam melindungi Rasulullah. Di sisi lain, Hanzhalah Bin Amir mengamuk sejadi-jadinya, dia menebas dan menumpas banyak sekali kaum kafir Quraisy. Para sahabatnya yang gugur seakan memberi semangat untuknya agar bisa menghabisi Abu Sofyan dan pasukannya.
Di sela kecamuk medan peperangan itulah, pandangan mata Hanzhalah bin Amir bertemu dengan mata Abu Sofyan. Tidak selang beberapa lama hingga pada akhirnya mereka terlibat duel satu lawan satu. Abu Sofyan yang kala itu menunggangi kudanya sesegera mungkin maju menerjang, namun Hanzhalah dengan lihai berlari dan menebas kaki kuda Abu Sofyan dengan pedangnya, membuat Abu Sofyan jatuh dan tersungkur ke tanah.
Melihat kesempatan tersebut, Hanzhalah pun segera mendekati Abu Sofyan yang tidak berkutik dan bersiap mengibaskan pedangnya. Abu Sofyan menyadarinya, dia tahu bahwa kini dia sudah tidak bisa berkutik saat kilauan pedang berdarah milik Hanzhalah sudah siap merobek lehernya. Tidak ada yang dilakukan Abu Sofyan selain minta tolong.
Beruntung untuk Abu Sofyan kala itu, pasalnya salah satu pasukannya, Syadad Bin Al-Aswad mendengar teriakan komandannya dan dengan segera mendekat. Hanzhalah mematung karena yang ia tahu saat itu hanyalah rasa sakit yang terasa dari tengkuknya. Dia berhasil dilukai oleh Syadad Bin Al-Aswad. Hanzhalah tersungkur ke tanah.
Tidak berhenti sampai disitu, sekerumunan orang kafir Quraisy yang ada di sekitar langsung menghantam Hanzhalah yang lemas di tanah dengan pedang-pedang dan belati mereka. Dalam kondisi luka yang sudah parah, Hanzhalah masih dilempari bertubi-tubi dengan anak panah dan tombak. Hingga pada akhirnya Hanzhalah tidak bergerak lagi. Jasadnya terbujur. Hanzhalah bin Amir meninggal.
Jasad Hanzhalah bin Amir Pasca Perang Uhud
Dalam perang tersebut, kaum muslimin mengalami kekalahan. Entah berapa banyak korban yang berjatuhan. Saat darah sudah menyatu dengan tanah, dan suara gesekan pedang berganti dengan suara angin semilir, para sahabat mulai mencari dan menghitung-hitung berapa banyak korban yang gugur. Di kala mengurus banyaknya jasad yang berguguran, mereka menyadari tubuh Hanzhalah yang terbujur di satu sudut bekas medang perang.
Saat para sahabat memperhatikan, itulah saat di mana tubuh Hanzhalah terangkat, kemudian muncullah air yang menetes dan mengguyur keseluruhan jasad Hanzhalah. Tubuh tersebut terbolak balik seakan ada yang memandikannya. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi, hingga pada akhirnya Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh Aku melihat bahwasanya Malaikat memandikan Hanzhalah bin Amir RA antara langit dan bumi dengan air Muzn (mendung) dalam bejana terbaut dari perak.”
Kemudian beliau mengutus salah seorang sahabat untuk mengabarkan hal itu kepada istri Hanzhalah dan menanyakan apa yang dikerjakan suaminya sebelum pergi ke medan perang.
“Ketika mendengar panggilan perang, Hanzhalah dalam keadaan junub dan belum sempat mandi…,”kata Jamilah.
Beruntunglah Hanzhalah, syuhada yang telah dimandikan oleh para malaikat. Dia memperoleh kedudukan yang tinggi di haribaan Allah SWT. Itulah sebaik-baik tempat yang tidak semua orang mampu meraihnya.
Nabi Bersabda, “Allah Subhanahu wataa'ala berfirman: Tiada balasan bagi hamba-Ku yang berserah diri saat Aku mengambil sesuatu yang dikasihinya di dunia, melainkan surga.” (HR Bukhari).