Jakarta Pusat

Sambil Menangis, Seniman Sebut Punya Gubernur Tak Mengerti Kebudayaan

Oleh: Admin Rabu 27 Nov 2019, 21:55 WIB
David Karo menangis saat menyampaikan aspirasinya dalam menolak hotel di TIM dihadapan Anggota Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta (Ayojakarta.com - Aprilia Rahapit)

JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM -- Seorang seniman bernama David Karo menangis saat menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap pembangunan hotel di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (27/11/2019).

David mengaku pembangunan hotel yang bernama Wisma TIM ini telah membuatnya kecewa terhadap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Ia menilai, Anies seperti tidak mengetahui tentang kesenian dan kebudayaan. 

"Untuk semuanya pertama-tama saya kecewa dalam hidup saya punya gubernur yang nggak ngerti kebudayaan,'' ungkapnya tersedu. 

Menurut David, tidak ada ajakan kepada seniman dan budayawan di TIM untuk duduk bersama dalam rencana pembangunan hotel oleh PT Jakarta Propetindo (JakPro), dengan masa pengelolaan selama 28 tahun ini.

"Diskusi dengan seniman pun tidak pernah, kita duduk bersama pun tidak pernah, itu rumah kita, rumah para seniman, jangan-jangan saya pikir Anies ini tidak mengerti sejarah lagi, jangan-jangan sejarah kebudayaan tidak mengerti, kok bisa jadi pemimpin saya bingung nih sebenarnya, saya sangat kecewa," tuturnya sembari menangis. 

David menyayangkan kawasan TIM sebagai tempat berekpresinya kini sudah tidak lagi seperti dahulu. Ia pun mengenang Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin yang meresmikan TIM spesial untuk para seniman. 

"Saya benar hadir situ pak, saya menjalani sesuatu dari situ pak, Ali Sadikin itu mewariskan itu untuk seniman, cuma itu yang saya banggakan, kalau pun dia ambil mau kemana kita sekarang," ungkapnya.

"Tiba-tiba JakPro mengelola TIM itu juga menurut saya gila pak, apa urusannya Jakpro itu loh, bicara kesenian dan kebudayaan aja nggak bisa tiba-tiba ngurus, bingung saya, dan hotel gitu lah, kan jelas pusat kesenian Jakarta kok jadi hotel berbintang lima," sambungnya.

Ia mengaku bingung harus berbuat apa, sementara revitalisasi sudah mulai berlangsung.

"Saya mau melawan nggak bisa pasti ditangkap, ngebunuh ditangkep kan gawat posisinya, sementara tempat kita mau kemanain lagi," ujarnya. 

David meminta agar pembangunan hotel dengan total anggaran Rp 1,8 triliun ini segera dihentikan dan meminta pejabat Pemprov DKI Jakarta maupun DPRD DKI Jakarta untuk lebih merangkul para seniman yang mengerti sejarah dan kebudayaan.

"Jadi saran saya itu harus ditutup sementara  apapun alasannya harus ditutup, harus ada diskusi menyeluruh kepada seniman, apa yang dimau seniman ya harusnya itu dituruti buka apa yang mau JakPro- itu, lu cari duit jangan di kesenian dong.

Kuncinya proyek itu harus dihentikan. JakPro harus minggat dari TIM. Seniman yang urus rumahnya sendiri," tandasnya. 
 

Reporter Admin
Editor Lopi Kasim