JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM -- Seniman yang menolak pembangunan hotel atau wisma di Taman Ismail Marzuki (TIM) menyampaikan keresahannya melalui bait-bait puisi.
Tidak ada menyangka kehadiran para seniman yang menyampaikan aspirasi penolakan pembangunan hotel di ruangan Forum Pengaduan Rakyat Fraksi PDI-P DPRD DKI Jakarta itu akan ditutup dengan puisi oleh seniman Ryan Hutagaol;
Janganlah bersedih Indonesia, kami berdiri menjaga mu pertiwi, kenapa mata kalian berdarah hanya karena kalah. Aku tak mau tahu yang tak ku tahu, aku tak perlu mengerti apa yang tak ku pahami, berjalan dengan satu kaki, aku berani untuk melangkah.
Aku tak takut separuh telinga ku korbankan untuk mendengar dunia, sekeping rasapun aku tidak kecewa, aku akan terus menulis riwayat dengan sepenuh hati, seluruh jiwa ragaku.
Akan ku korbankan untuk merampungkan tugas apabila saatnya akan kuserahkan kepada kalian semua, kami berikan aku cinta, berikan aku cinta yang akan ku bagi kepada dunia yang semakin menipis kemanapun kami memandang.
Bumi sudah menjadi medan pertempuran para pemimpin manusia sudah lebih kejam dari pada binatang, tak ada lagi ruang untuk berbagi rasa, kita semua terkutuk terkecuali kalian pahlawan bangsa.
Beberapa bait puisi tersebut sontak membuat seisi ruangan mengharu biru, puisi tersebut seakan mewakili perasaan mereka yang menolak pembangunan hotel yang dibangun PT Jakarta Propentindo (JakPro) ini.
Pantauan Ayojakarta, 18 seniman ini di antaranya adalah Radhar Panca Dahana, Imam Maarif, Nuyang Jalmee, Iwan Burnani, David Koro dan yang lainnya diterima oleh Ketua Fraksi PDIP Gembong Warsono, Sekretaris Fraksi PDIP Pendapotan Sinaga, dan seluruh anggotanya seperti Ima Mahdiah, Ida Mahmudah dan lainnya.