JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Organisasi kemanusiaan dan kegawadaruratan medis MER-C mengecam hoaks yang mendiskreditkan petugas medis yang bertugas di tengah kerusuhan di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Rabu malam (25/9/2019).
"Menuduh ambulans bawa ini itu tanpa pemeriksaan ketat, itu salah. Kalau ambulans bawa batu, segala macam, senjata tajam, senapan, ambulans yang salah," kata Pembina MER-C, Joserizal Jurnalis, saat dikonfirmasi, Sabtu (29/9/2019).
Bahkan dalam aturan peperangan, ambulans tidak boleh membawa senjata. Tapi sebaliknya, jangan juga memfitnah petugas ambulans yang tidak membawa senjata.
Tuduhan tidak berdasar oleh petugas kepolisian kepada petugas medis dapat merusak sistem yang berlaku di medan perang, yang bisa merugikan aparat atau prajurit yang ada di medan perang.
"Kalau di medan perang tidak ada yang mau mengevakuasi orang yang terluka bagaimana, ini menyangkut sistem," kata dokter lulusan Universitas Indonesia tersebut.
Menurut dia, adalah hal biasa jika di dalam ambulans ada korban pengunjuk rasa yang terluka, mendapat perawatan medis namun didapati membawa senjata atau batu di badannya.
AYO BACA : Kepala PMI Jaktim: Petugas Medis Dipukul, Didorong dan Diinjak Oknum Brimob
"Sudah tugas tim medis untuk menolong korban terluka, sehingga aparat tidak langsung menuduh ambulan membawa batu," tegasnya.
Tetapi jika dalam ambulans tidak ada korban tapi terdapat senjata dan segala macamnya, aparat berhak untuk melakukan penangkapan terhadap ambulans tersebut.
"Kecuali ambulans itu ditodong isinya batu semua, boleh diproses hukum," ucap Jose.
Jose mengatakan, kerusuhan Jakarta pada 21-22 Mei menjadi pelajaran bagaimana aparat bertindak tidak pantas dalam mengatasi pengunjuk rasa dan tim medis yang bertugas di lapangan.
Sikap aparat dalam menangani aksi unjuk rasa represif dan berlebihan seperti di medan perang. Padahal, bahkan di dalam peperangan pun ada aturan yang harus dipatuhi dan diatur dalam Konvensi Jenewa.
"Dari dulu, sejak kejadian kericuhan 21-22 Mei, saya sudah sampaikan kepada polisi bacalah Konvensi Jenewa, jadi tahu bagaimana menangani tenaga medis, tokoh agama, tokoh masyarakat dalam sebuah peperangan," kata Jose.