Jakarta Pusat

PKL di Trotoar Taman Cut Mutiah: Ada yang Sudah 20 Tahun, Diurus Yayasan atau Bayar ke Lurah

Oleh: Admin Kamis 05 Sep 2019, 15:33 WIB
Deretan PKL di kawasan Taman Cut Mutiah, Menteng, Jakarta Pusat/Ayojakarta.com

JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM -- Menarik untuk mendengar kisah para pedagang kaki lima (PKL) di trotoar Jalan Taman Cut Mutiah, tepatnya di samping Masjid Cut Meutia, Jakarta Pusat. 

Kebanyakan mereka menyambut baik rencana Gubernur Jakarta, Anies Baswedan, melegalkan trotoar sebagai lokasi berjualan. Ayojakarta menemui mereka yang sedang mangkal. 

Para PKL tampak memadati trotoar sepanjang arah Stasiun Gondangdia maupun sebaliknya. Tiba di sana (Kamis siang, 5/9/2019), banyak pekerja kantoran sedang makan siang kala jam istirahat.

Awalnya kami coba mengulik segi pendapatan harian para pedagang. Wawan, pedagang Ayam Bakar Cut Mutiah yang telah membuka lapak dari 3 tahun silam mengaku pendapatan hariannya tak menentu.

"Udah 3 tahun di sini. Kalau pendapatan jualan enggak tentu. Per hari sih Rp 700 (ribu)-an biasanya," ucap Wawan yang sehari-hari berdagang ditemani sang istri. 

Tentang wacana Pemprov DKI Jakarta yang bakal mengizinkan sejumlah trotoar untuk lahan berdagang, Wawan menyatakan sangat setuju.

"Setuju diberikan jalan terbaik buat pedagang, diperluas. Saya mah suka aja mas," ucapnya sembari sibuk melayani pelanggan. 

Selama ini ia tidak pernah terlalu mencemaskan penertiban PKL yang kerap dilakukan Satpol PP DKI Jakarta. Sebab ia rutin membayar iuran kepada pihak yayasan masjid untuk bisa membuka lapak di kawasan Taman Cut Mutiah. 

"Jarang mas kalau di sini (razia pedagang). Kan ada yayasan masjid yang ngurusin sini," ungkap Wawan. 

Kami juga mendatangi lapak PKL lainnya, kali ini warung kopi tak jauh dari Wawan. 

AYO BACA : Anies Pastikan PKL di Jakarta Boleh Berdagang di Trotoar

"Udah lama, 20 tahun," sebut Icak, pedagang kopi ketika ditanya berapa lama sudah berdagang di sana. 

Pria lanjut usia yang mengalami gangguan pendengaran ini sempat bercerita tentang sejarahnya berdagang di Stasiun Gondangdia sampai akhirnya angkat kaki dan geser ke trotoar Taman Cut Mutia. 

"Saya dulu dagang di atas, stasiun. Terus di suruh pindah ke bawah," katanya sambil asyik menghisap asap rokok dan menikmati susu kaleng.

Lain lagi pedagang mie ayam, Tomi, yang berjarak beberapa langkah dari warung Icak. Tomi mengaku sudah 8 tahun berjualan di kawasan Taman Cut Mutiah. 

"Sekitaran 8 tahunan," ucap Tomi yang sedang membereskan dagangannya, Jakarta Pusat, Kamis (5/9/2019).

Tomi terus terang bahwa pemasukan bulanannya belum cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

"Kadang-kadang Rp 900.000, kadang-kadang Rp 400.000. Menuhin kebutuhan cukup enggak cukup sih," aku Tomi.

Tomi mengaku rutin membayar uang sewa lapak kepada pihak "penagih". "Kalau harian kadang-kadang Rp 20.000, Rp 25.000, Rp. 30.000," ucapnya. 

Setahu Tomi, uang sewa itu selanjutnya diserahkan kepada "Lurah". "Iya diizinin, Pak Lurah," kata Tomi.

Saat disinggung mengenai wacana Pemprov DKI Jakarta mengizinkan PKL berdagang di trotoar, dengan singkat Tomi menyatakan setuju. 

"Saya setuju-setuju aja," papar Tomi tanpa panjang lebar.

Reporter Admin
Editor Aldi Gultom