TEBET, AYOJAKARTA.COM – Santap siang di warung tegal (warteg) di Jakarta, merupakan kebiasaan yang mengasyikkan bagi sebagian besar orang. Warteg kini menjadi pilihan terbaik bagi kelompok warga, baik itu yang berpenghasilan ekonomi menengah ke bawah maupun orang yang berpenghasilan ekonomi kelas atas.
Salah satunya, sebuah warteg berukuran 8 x 6 meter persegi di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, nampak penuh pembeli. Padahal, Selasa (25/8/2020) lalu itu sudah lewat jam makan. Tiga deret bangku panjang berkapasitas 15 orang terisi lebih dari sepenuhnya. Itulah Warteg Marmo yang bertahan sejak 51 tahun silam.
(menu andalan yang disajikan Warteg Warmo di Jaksel/ ist)
“Kalau pas jam makan, susah dapat tempat duduk,” kata Farid, seorang pengunjung Warteg Warmo, Tebet, Jakarta Selatan.
Ita, 49 tahun, pengelola Warteg Warmo, mengaku saban hari 500 pembeli mampir di sana. Namun, tentunya semenjak pandemi Covid-19 melanda Jakarta, jumlah pembeli menurun drastis karena aturan pembatasan pengunjung yang tak boleh terlalu ramai makan di tempat.
“Di sini mulai dari supir angkot, mbak-mbak yang kerja kantor sekitar sini sampai artis juga jadi pelanggan Warmo. Dari artis pelawak hingga anggota band,” kata Ita kepada Ayojakarta.
Bukan menu andalan yang menjadi kunci laris dan bertahannya Warmo sampai saat ini. Melainkan konsistensi melihat peluang pengunjung yang mampir di waktu malam. Awalnya, warteg berdominasi warna oranye ini menargetkan para tukang becak yang bekerja hingga larut malam, bahkan sampai pagi, butuh pengisi perut.
AYO BACA : Mengenal Warteg Kharisma Bahari: Memberlakukan Sistem Kemitraan dan Saling Mempromosikan
“Nggak tahu persisnya tahun berapa, pokoknya lama kelamaan Warmo mulai buka 24 jam,” katanya.
Menurutnya, jika mengandalkan menu andalan sebagai kunci mengantarkan Warmo menjadi warteg terkenal tak akan terlalu berhasil. Terlebih, makin banyak warteg modern yang “berdinasti” di segala penjuru Jabodetabek. Ita menyebut hanya satu menu Warmo yang dari dulu memang dikenal oleh pelanggan setia Warmo, yakni telur bulat kuah rendang.
“Intinya, di sini nggak ada menu andalan. Namun, memang kita ini menunya komplit biar orang yang dating terus nggak bakal bosan. Soal andalan, itu selera orang dari dulu kan beda-beda,” ucapnya.
Soal harga, tidak terlalu mahal tetapi juga tak bisa dibilang murah. Setidaknya, harga masih terjangkau tergantung dari lauk yang diambil. Bahkan, saking enaknya, banyak pembeli yang selalu nambah lauk hingga tak sadar jika sudah makan lebih dari seporsi.
Meskipun kini Warmo dihimpit oleh berbagai kehadiran warteg modern, bahkan seperti kerajaan warteg Kharisma Bahari yang kerap dijumpai di manapun, Warmo tetap bertahan dengan pesona dan ciri khas yang sejak dahulu dimiliki hingga menjadi legenda bagi pengunjung.
“Khawatir sih ada (tersaingi), tapi itu balik lagi ke strategi usaha masing-masing. Tiap warteg punya karakteristik pelanggannya, kita santai saja karena Warmo pasti tetap ramai oleh orang yang sudah tahu apa istimewanya Warmo dibandingkan warteg lain,” kata Ita.
Bagi Ita, Warmo tidak akan pernah kehabisan pengunjung yang hidup di sekitar Tebet bahkan di luar wilayah itu. Menurutnya, orang-orang akan tetap mencari Warmo untuk mengisi perut kapan pun mereka ingin makan atau sekadar mampir untuk bercengkrama ngalor-ngidur di warung tersebut.
AYO BACA : Selama PSBB, Ormas Bagikan 1.000 Kupon Makan Gratis Setiap Hari