JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Bantuan sosial dalam bentuk paket kebutuhan pokok alias sembako tidak cukup buat orang miskin di Jakarta.
Pandemi Covid-19 bukan cuma membuat orang kecil kesulitan membeli makanan sehari-hari, tapi juga membayar aneka tagihan bulanan salah satunya adalah sewa kontrakan atau kos
"Bantuan sembako itu tidak pernah bisa menyelesaikan masalah bagi kelompok perantau atau mereka yang tidak punya rumah. Mereka mengontrak rumah dengan sistem bulanan. Ketika terjadi (wabah) seperti ini, maka kita lihat kemarin ada gelandangan karena kehilangan tempat tinggal," kata pengamat perkotaan, Yayat Supriatna, kepada Ayojakarta, Senin (27/4/2020).
Menurut Yayat, warga yang tak mampu membayar sewa rumah berpotensi menjadi tunawisma. Tentu ini masalah sosial baru di tangah wabah Covid-19.
"Mereka tidak punya pilihan bertahan di Jakarta, tidak punya pekerjaan, dan tidak punya kemampuan untuk membayar sewa rumah atau kontrakan rumah. Ada potensi jadi gelandangan," ujarnya.
Dia meminta Pemprov DKI melakukan antisipasi agar para pendatang tidak kehilangan tempat tinggal. Yayat menyarankan Pemprov DKI menyediakan tempat tinggal sementara (shelter) untuk warga yang kehilangan tempat tinggal akibat tak mampu bayar sewa setelah kehilangan mata pencaharian.
"Tampung mereka di panti-panti sosial atau shelter. Itu bisa memanfaatkan balai-balai pertemuan, panti sosial, atau gedung olahraga, supaya mereka tidak kemana-mana, atau fasilitas publik lainnya yang bisa digunakan," jelas Yayat.
Kemudian, di setiap shelter perlu disediakan dapur umum untuk menjamin mereka agar tidak kelaparan. Shelter dan dapur umum itu didirikan paling tidak sampai larangan mudik berakhir.
"Disediakan dapur umum sehingga bisa menolong mereka minimal sampai masa larangan mudik ini selesai. Atau minimal sampai angka laju kenaikan Covid-19 ini mulai menurun, sehingga mereka bisa lebih terjamin," ujarnya.