Jakarta Selatan

Panic Buying, Masker Jadi Barang Langka di Jaksel

Oleh: Admin Senin 02 Mar 2020, 18:28 WIB
Salah satu apotek di Jakarta Selatan yang langsung diserbu masyarakat pasca diumumkan ada 2 WNI positif corona. (Ayojakarta.com/ Hendy Dinata)

AYO BACA : Dua Orang Indonesia Positif Corona Tinggal di Depok

AYO BACA : Antisipasi Penyebaran Corona, MRT Lakukan Kebijakan Ini!

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM - Usai Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengumumkan 2 warga Depok, Jawa Barat, positif terpapar virus corona Covid-19, masker menjadi barang langka dan harganya pun melambung tinggi. Itu dikarenakan banyak warga yang langsung bereaksi membeli masker untuk persediaan pribadi. Panic buying pun tak terelakkan.
 
Selain masker, gel antispetik pencuci tangan atau hand sanitizer juga menjadi barang yang paling dicari. Bahkan, di sejumlah apotek di Jakarta pembeli hanya diperbolehkan membeli satu pak per-orang.
 
"Iya sejak pak Jokowi umumkan tadi pagi, banyak orang yang membeli masker dan hand sanitizer. Alasan mereka untuk mengantisipasi, agar tidak terdampak," ujar seorang penjaga apotek di kawasan Jakarta Selatan yang enggan disebutkan namanya, Senin (2/3/2020).
 
"Dari manajemen memang dibatasi pembeliannya, agar tidak disalahgunakan. Hand sanitizer kita batasi satu orang satu," tambahnya.
 
Sementara itu, Bobby (38) seorang warga Jakarta Timur mengaku sulit mendapatkan masker. Jika memang masih ada di sejumlah toko atau apotek, harganya naik hingga 10 kali lipat dari harga normal.
 
"Masker biasa dari yang biasanya Rp 1000 sekarang bisa Rp 6000, yang NH25 harga biasanya Rp 250 ribu menjadi Rp 1,6 juta. Jadi bingung, harganya mahal, tapi mau gak mau harus beli," ujarnya.
 
Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo mengonfirmasi temuan dua WNI positif virus Corona tadi pagi. Kedua pasien asal Depok tersebut merupakan ibu dan anak berusia masing-masing 64 tahun dan 31 tahun yang sempat kontak dengan WN Jepang, yang juga terinfeksi virus Corona.
 
Menteri Kesehatan Terawan mengatakan, penggunaan masker diperuntukkan kepada orang yang sakit. Hal itu sesuai dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang baru, dan juga dipakai di negara Amerika.
 
"Aturannya yang dikeluarkan Amerika, rilis dan sebagainya, yang pakai itu yang sakit. Yang tidak sakit, yang sehat itu tidak perlu pakai. Itu baik dari keputusan WHO, atau pun Amerika semua sama, seluruh dunia.  Yang pakai masker yang sakit, supaya tidak menularkan. Yang sehat perlindungannya jelas,higine (kebersihan), imunitas," kata Terawan di Jakarta, Senin (2/3/2020).

AYO BACA : Jumlah Korban Tewas Virus Corona Tembus 3.055 Jiwa

Reporter Admin
Editor Fitria Rahmawati