Jakarta Selatan

Mau Tahu Banyak Tentang Suku Kamoro? Datang Saja ke Pameran Budaya di Dharmawangsa Residences

Oleh: Admin Jumat 06 Des 2019, 07:46 WIB
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, bersama penari-penari asal Papua saat menghadiri Pameran dan Lelang Seni Ukir dan Anyaman Suku Kamoro. (Dok. Yayasan Lontar)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Yayasan Lontar bekerjasama dengan Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe dan PT Freeport Indonesia (PTFI) membuka acara “Pameran dan Lelang Seni Ukir dan Anyaman Suku Kamoro” pada Kamis kemarin (5/12/2019), di Dharmawangsa Residences, Jakarta Selatan.

Pameran itu menampilkan seni dan budaya tradisional Suku Kamoro, yaitu suku yang tinggal di wilayah pesisir Selatan Papua di Kabupaten Mimika dan bertetangga langsung dengan wilayah kerja PTFI. 

Suku Kamoro dikenal memiliki berbagai kekayaan budaya seperti ritual alam, upacara adat, seni ukir, anyaman, tarian dan hasil kerajinan. Suku Kamoro juga dikenal sebagai suku yang berkemampuan tinggi dalam hal seni ukir. Berbagai macam bentuk ukiran dipamerkan dalam event ini, mulai dari perisai, dayung, mangkuk sagu, gendang, dan barang-barang sehari-hari lainnya. Mereka juga membuat ukiran khusus yang disebut Wemawe, patung yang berbentuk manusia dan Mbitoro, totem yang dibuat untuk para leluhur.
 
Selain pameran, lelang ukiran juga akan diselenggarakan dalam acara ini. Masing-masing karya seni memiliki keunikan tersendiri dan memiliki  kisah di balik ukiran tersebut. 

"Hasil lelang yang terkumpul akan dikembalikan kepada pengukirnya, dan sebagian lagi akan digunakan untuk program pengembangan dan pelestarian seni budaya Kamoro,” ujar Founder Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe, Luluk Intarti, dalam siaran persnya.

Sedangkan Direktur Eksekutif Yayasan Lontar, Yuli Ismartono, mengatakan, karya seni ukir dan anyam merupakan bentuk penuturan yang dilakukan Suku Kamoro dalam mewariskan budaya dan kearifan lokal ke generasi berikutnya. 

"Karena itu, kami berupaya melestarikan seni ukir dan anyam ini sebagai akar tradisi Suku Kamoro agar pengetahuannya tidak lenyap begitu saja tanpa bekas. Kami meyakini bahwa kearifan lokal ini bisa berkontribusi besar kepada kekayaan pengetahuan secara global,” tutur Yuli. 

Berdasarkan laporan yang dibuat United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) bertajuk “Creative Economy Outlook: Trends in International Trade in Creative Industries”, industri kreatif adalah sektor paling dinamis dalam perekonomian dunia dan menyediakan peluang besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi bangsa. Bahkan berdasarkan data yang dihimpun, nilai ekonomi produk kreatif mengalami pertumbuhan hingga dua kali lipat antara tahun 2002 sampai 2015, dari 208 miliar sampai dengan 509 miliar Dolar AS.

“Besar harapan kami, melalui upaya promosi dan pelestarian seni dan budaya lokal ini dapat memotivasi para pengukir untuk dapat terus berkarya dan menghasilkan karya seni berkualitas tinggi secara berkelanjutan. Dengan demikian, mereka juga dapat ikut menciptakan pertumbuhan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Kamoro dan Kabupaten Mimika secara lebih luas,” kata Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas.

Pameran Budaya Suku Kamoro akan dibuka untuk umum selama dua hari mulai Jumat ini sampai Sabtu besok (7/12/2019).

Pada malam sebelumnya, pameran tersebut juga dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendkibud), Nadiem Makarim.

Reporter Admin
Editor Aldi Gultom