KEBAYORAN BARU, AYOJAKARTA.COM -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengumumkan prestasi yang diraih oleh Jakarta baru-baru ini, yakni sebagai satu dari tiga kota terbaik di dunia dalam perbaikan transportasi.
''Ini pengumuman awal karena award-nya diberikan Januari besok. Satu dari kota terbaik di dunia dalam perbaikan transportasi,'' katanya saat menghadiri peluncuran inovasi layanan E-TLE Development Program di Mapolda Metro Jaya, Kamis (5/12/2019).
Menurut Gubernur Anies, capaian ini adalah hasil dari kerja bersama semua pihak, terutama Pemprov DKI dan kepolisian dalam penyediaan transportasi publik yang terintegrasi serta layanan penindakan berbasis teknologi.
Dia mengapresiasi inovasi-inovasi yang dikembangkan oleh Polda Metro Jaya, seperti sistem tilang elektronik menggunakan kamera super canggih atau Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE).
Menurutnya, dengan pendekatan ini telah terjadi perubahan di Jakarta.
''Jakarta adalah kota megapolitan terbesar di belahan selatan dunia. Dan apa yang kita lakukan di Jakarta sebetulnya rujukan bagi beberapa tempat, tidak hanya di Indonesia tapi tempat-tempat lain di dunia,'' kata Gubernur Anies.
Tantangan pengelolaan lalu lintas di Jakarta harus diselesaikan dengan kolaborasi dan memanfaatkan terobosan teknologi.
Dia membeberkan perkembangan transportasi di Jakarta. Pada tahun 1999, jumlah pengguna kendaraan pribadi sebesar 49 persen penduduk dan pengguna kendaraan umum 51 persen. Tetapi kini angka tersebut berbalik. Pengguna transportasi pribadi tinggal 23 persen dan 77 persen dari warga Jakarta menggunakan kendaraan umum.
Selama warga Jakarta masih menggunakan kendaraan pribadi maka masalah kemacetan akan selalu hadir.
''Jadi salah satu solusinya adalah memindahkan penggunaan kendaraan pribadi ke kendaraan umum,'' ujar Gubernur Anies.
Dia mengakui bahwa memindahkan penggunaan kendaraan pribadi ke kendaraan umum tidak mudah karena harus didukung kenyamanan dan kepastian waktu tempuh.
Pada 2018, Pemprov DKI mengintegrasikan kendaraan umum yang ada mulai dari angkot sampai Transjakarta dalam satu sistem betnama Jak Lingko.
Menurut Gubernur Anies, kehadiran sistem tilang elektronik yang diprakarsai oleh Polda Metro Jaya yang dikolaborasikan di rute Transjakarta berdampak positif pada peningkatan jumlah penumpang.
''Kita mengintegrasikan, kita berkolaborasi mensterilkan jalur-jalur Transjakarta. Ketika pengendara pribadi melihat Transjakarta bisa melewati rute-rute dengan leluasa dia akan berpikir lebih baik berpindah kendaraan tapi bila jalur Transjakarta macet maka tidak ada bedanya,'' paparnya.
Hadirnya sistem tilang elektronik di jalur Busway memicu terjadinya perubahan. Pada 2017, rute bus yang tersambung adalah 121, sekarang sudah ada 210 rute. Sementara itu, rute yang terintegrasi di tahun 2017 ada lima, sekarang bertambah menjadi 21 rute.
Tidak hanya rute. Jumlah penumpang kendaraan umum di Jakarta juga meningkat. Tahun 2016 tercatat penumpang Transjakarta 338 ribu, kini rata-rata 700 ribu penumpang. Puncaknya, tiga hari lalu jumlah penumpang Transjakarta mencapai 987 ribu orang.
Gubernur Anies menargetkan tahun ini Jakarta keluar dari 10 besar predikat kota termacet di dunia.
Pada 2017 Jakarta dinobatkan sebagai kota nomor empat termacet di dunia, lalu predikat itu turun di tahun 2018 menjadi nomor tujuh.
''Kita bersama-sama keluar dari 10 besar kota paling macet. Sekarang kalau turun di nomor tujuh artinya peningkatan kita sangat drastis,'' demikian Gubernur Anies.