AYOJAKARTA.COM – “BANG, Tanggo positif Covid-19. Aku juga mau tes swab.”
Pesan WhatsApp itu masuk ke telepon pintar saya dari Tine, Sabtu sore 28 November 2020. Tanggo yang Tine sebut adalah suaminya. Pasangan itu saya kenal dengan baik. Oh iya, keduanya bukan nama sebenarnya.
Perbincangan saya dan Tine berlanjut cukup panjang. Dari percakapan via WA itu, kami memiliki kesimpulan yang sama; klaster keluarga dan orang dekat kini patut menjadi perhatian kita semua.
Ceritanya begini….
Tanggo dan Tine kebetulan tengah menetap sementara di rumah orang tuanya di Bekasi Timur. Rumah pribadi mereka sedang direnovasi. Di sana, selain mereka, ada mama dan papa Tine plus dua adiknya. Satu adiknya sudah berkeluarga.
Sekitar dua pekan lalu, adik ipar Tine menengok mamanya yang sakit. Sampai di situ belum ada sesuatu yang mengejutkan. Kembali ke Bekasi Timur, adik ipar Tine masih oke-oke saja.
“Nah, Senin lalu, Tanggo demam-demam gitu. Lantas kami dapat kabar, Om-nya adik iparku positif Covid-19. Padahal Mama dan Om-nya adik iparku itu baru pergi bareng ke Banten. Pulang dari sana, mereka sakit.”
Tau begitu kejadiannya, adik ipar Tine dan Tanggo, karena sedang demam juga, berinisiatif tes swab. “Dan hasilnya, dua-duanya positif!”
Memang belum bisa dipastikan apakah penularan terjadi dari adik ipar Tine ke Tanggo atau dari Tanggo ke adik ipar Tine. Mungkin juga mereka terpapar di tempat lain. Pasalnya, Tanggo dan adik iparnya itu boleh dibilang tidak pernah kontak fisik langsung meski tinggal serumah.
“Mungkin juga Tanggo terrpapar dari pas naik Kereta Rel Listrik (KRL). Tapi menurutku kemungkinannya kecil. Kalau di kantornya, kayaknya nggak deh karena gak ada info temannya yang terpapar Covid-19.”
Bagi Tine yang banyak menulis tentang wabah virus Corona ini, apapun cerita asal muasal Tanggo dan adik iparnya terpapar Covid-19, klaster keluarga dan orang terdekat patut menjadi perhatian kita semua.
Klaster itu juga yang menyebabkan Wakil Gubernur DKI Jakarta A. Riza Patria terpapar Covid-19. Berdasarkan contact tracing Dinas Kesehatan, Bang Ariza, panggilan akrab orang nomor dua di Balai Kota itu, kemungkinan terpapar dari staf pribadinya.
“Jadi, temuan positif Covid-19 ini adalah dari lingkungan pekerjaan, di mana ada staf saya yang tertular dari klaster keluarganya. Ini tentu menjadi perhatian kita semua untuk lebih menjaga kedisiplinan protokol kesehatan hingga di dalam keluarga sekalipun,” ujar Wagub Ariza dalam siaran pers yang diperoleh Ayojakarta.
Bang Ariza sendiri sebelumnya melakukan dua kali tes usap (PCR Test), yaitu pada Kamis (26 November 2020) dengan hasil negatif dan lalu dilanjutkan tes yang sama pada Jumat (27 November) dengan hasil terkonfirmasi positif.
Sesuai arahan dokter, saat ini Wagub Ariza menjalani isolasi mandiri. “Alhamdulillah, meskipun hasil testing pada Jumat kemarin menunjukkan positif Covid-19, kondisi saya tetap baik dan terkendali. Baik staf dan seluruh anggota keluarga saya juga sudah menjalani tes usap.”
Ariza mengingatkan bahwa sesuai dengan prosedur kesehatan yang telah ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap pasien terkonfirmasi positif Covid-19 wajib melakukan isolasi mandiri dan tetap dalam pengawasan tenaga kesehatan, baik di level pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) hingga rumah sakit.
KASUS BARU
Penyebaran Covid-19 di Tanah Air belakangan ini kembali mengkhawatirkan. Paling tidak dilihat dari kasus baru selama dua pekan terakhir dan positivity rate baik secara nasional maupun di DKI Jakarta.
Berdasarkan data laman resmi penanganan Covid-19 di Ibu Kota, corona.jakarta.go.id, sejak 13 November, kasus baru konfirmasi positif Covid-19 selalu di atas angka 1.000 kasus per hari. Sejak tanggal itu, terlihat grafik yang meningkat dibandingkan dua pekan sebelumnya, sejak 25 Oktober, yang cenderung bertambah di bawah seribu kasus baru per hari.
Secara nasional, angka penambahan kasus baru mencapai rekor tertinggi pada 29 November kemarin dengan jumlah 6.267 kasus. Catatan ini untuk kali perdana kasus harian meningkat di atas angka 6 ribu sejak pasien pertama diumumkan pemerintah pusat pada 2 Maret 2020.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, positivity rate pada hari itu mencapai 20,2 persen. Positivity rate merupakan jumlah kasus positif dibandingkan dengan jumlah tes. WHO menetapkan ambang batas persentase positivity rate sebesar 5 persen.
Meski begitu, menurut Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, untuk melihat perkembangan pandemi Covid-19 perlu data mingguan atau bulan. Jadi tak sekadar harian.
Tapi mau bagaimana lagi. Data mingguan yang disebutkan Wiku juga jauh di atas ambang batas yang ditetapkan WHO yakni 13,83 persen.
Apalagi kalau mendengar pernyataan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada hari ini. Secara khusus Presiden menyebut DKI Jakarta dan Jawa Tengah sebagai provinsi yang mengalami kenaikan tajam dari sisi kasus positif selama dua tiga hari belakangan.
“Agar dilihat betul-betul kenapa peningkatannya begitu sangat drastis, hati-hati!” ujar Presiden dalam rapat terbatas Laporan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, di YouTube Sekretariat Presiden, Senin (30 November 2020).
Presiden lantas mengutip data terbaru per 29 November yang menyatakan kasus aktif meningkat menjadi 13,41 persen. Padahal, pekan lalu angka kasus aktifnya berada di angka 12,78 persen. “Meskipun ini lebih baik dari angka rata-rata dunia, tapi hati-hati ini lebih tinggi dari rata-rata minggu yang lalu. Minggu yang lalu masih 12,78, sekarang 13,41.”
Melihat data-data selama dua pekan terakhir, penyebaran virus Corona boleh dibilang kembali ke titik yang mengkhawatirkan. Bagi saya, seperti sia-sia langkah selama delapan bulan berperang melawan Covid-19 kalau pada hari-hari belakangan, pemerintah dan juga masyarakat abai dengan protokol kesehatan.
Dan, mengutip kata Tine via WA, “delapan bulan bikin berita tentang Covid-19, akhirnya ‘dia’ bener-bener nyata di depan mata.”