Jakarta Timur

Kisah 'Manusia Gerobak' Bertahan Hidup di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh: Admin Rabu 13 Mei 2020, 07:10 WIB
Manusia Gerobak di Jakarta, mereka mengaku lebih nyaman tidur di gerobak dibanding di panti. (Ayojakarta.com/Hendy Dinata)

AYO BACA : Nasib Manusia Gerobak dan Pemulung Usai Dilepas Aparat

AYO BACA : Satpol PP Razia Manusia Gerobak dan Gepeng di Wilayah Cawang

RAWAMANGUN, AYOJAKARTA.COM -- Kemunculan 'Manusia Gerobak' pada setiap bulan suci Ramadan menjadi hal lumrah yang terjadi di Ibu Kota Jakarta.

Bagi mereka yang membawa serta keluarganya dan berkeliling menarik gerobak di jalanan, Jakarta punya daya tarik yang kuat.

Namun, semenjak pandemi Covid-19 melanda Tanah Air, khususnya DKI Jakarta, menurut mereka Ramadan kali ini terasa sangat berbeda.

Seperti yang dikisahkan oleh Ahmad Firdaus (43), 'Manusia Gerobak' asal Karawang, Jawa Barat, yang mengaku telah tinggal di gerobak bersama keluarga kecilnya sejak tahun 2008.

"Iya beda banget, biasanya kalo puasa banyak yang amal, tapi sejak corona jalanan sepi, paling kalau ada juga nasi bungkus atau takjil buat buka puasa," katanya kepada Ayojakarta, Selasa (12/5/2020) di Jalan DI Panjaitan, Jakarta Timur.

Ahmad mengaku dirinya bukanlah pengemis, ia adalah pemulung yang mengumpulkan kertas bekas, botol plastik, atau aluminium. Kalau sudah dirasa banyak, barang-barang itu bakal dijual ke pengepul.

Tapi, Ahmad yang sedang bersama isteri dan anaknya saat ditemui di pinggir jalan raya mengatakan tidak menolak jika ada yang memberikan bantuan.

"Saya mulung, apa aja yang bisa jadi duit saya kumpulin, tapi kalau ada yang kasih bantuan ya saya terima," ujarnya.

"Ya ada aja, nasi bungkus, kue untuk buka puasa, sembako, duit juga sering," tambahnya.

Dari penghasilannya sebagai pemulung, Ahmad Biasanya dalam sehari pada bulan biasa, bisa mengumpulkan Rp50 ribu, itu pun kalau tidak tertangkap Satpol PP.

“Cukup enggak cukup untuk makan bertiga. Tidur di gerobak. Kalau hujan ya pakai terpal,” ujar dia.

Ahmad mengaku, untuk mandi serta mencuci baju, ia gunakan toilet umum di daerah Senen, Jakarta Pusat. Ia mengaku sudah terbiasa hidup tanpa rumah.

Namun, Ahmad juga mengaku tidak berminat untuk hidup di panti sosial, karena menurut Ahmad, gerobak miliknya terasa lebih nyaman.

"Gak mau lah saya tinggal di panti, lebih nyaman gerobak saya, lebih bebas," katanya.

Lebih lanjut, Ahmad dan keluarganya mengaku tidak khawatir akan terpapar virus corona (Covid-19), karena sudah terbiasa hidup di jalan dan di kolong jembatan.

"Ya mau gimana, daripada kelaparan, sudah biasa juga hidup di tempat kotor," paparnya.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengatakan bahwa sebenarnya manusia gerobak melanggar peraturan daerah (perda).

Pemprov melalui Dinas Sosial (Dinsos) DKI Jakarta berusaha menertibkan para manusia gerobak, dan mengimbau pada warga jika menemukan tunawisma dapat melapor agar ditindaklanjuti.

AYO BACA : 'Manusia Karung' di Bandung Raya Diprediksi Terus Bertambah

Reporter Admin
Editor Budi Cahyono