JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Pengelola Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Sungai Bambu, Tanjung Priok, berhasil membudidayakan ratusan sayuran pakcoy.
Sayuran pakcoy ditanam pengelola RPTRA Sungai Bambu menggunakan sistem hidroponik. Dari proses pembibitan sampai masa panen, hanya membutuhkan waktu sekitar 1,5 bulan. Sedangkan sayuran pakcoy yang layak panen dijual Rp2.500 tiap potnya.
"Selain pakcoy juga dilakukan penanaman kangkung organik yang masih harus menunggu seminggu lagi untuk masuk masa panen. Kita manfaatkan kebun hidroponik dan lahan kosong yang berada di areal RPTRA Sungai Bambu untuk ditanami beragam sayuran," jelas Lurah Sungai Bambu, Sumarno, saat panen sayuran pakcoy di Kebun Hidroponik RPTRA Sungai Bambu, Jumat (7/2/2020).
Dari proyek budidaya pakcoy yang berhasil dilakukan di RPTRA, ia mengajak semua masyarakat Sungai Bambu untuk menggiatkan aksi tanam sayuran di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
"Dengan lahan yang terbatas kita masih menanam aneka sayuran. Seperti menggunakan sistem hidroponik, akuaponik atau bisa juga memakai botol plastik bekas untuk wadah menanam sayuran. Selain menghijaukan lingkungan juga bermanfaat bagi kesehatan ," imbaunya.
Salah satu petugas pengelola RPTRA Sungai Bambu, Tumiyanti mengatakan, penanaman hidroponik sudah dilakukan pihaknya sejak 2017.
"Beragam jenis sayuran sudah dicoba seperti selada, bayam, kangkung dan pakcoy. Tapi yang paling diminati warga adalah sayuran pakcoy. jadi lebih fokus menanam itu," ujar Tumiyanti.
Setelah dipanen, pengelola RPTRA Sungai Bambu langsung menjualnya ke pengunjung RPTRA dan warga sekitar.
"Menjelang masa panen, kami juga mempromosikan (penjualan) melalui media sosial, jadi ada saja yang pesan dan datang langsung untuk memetik sendiri sayurannya. Hasil penjualan sayuran kita putar lagi untuk membeli bibit, nutrisi dan kebutuhan lainnya," terangnya.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Jakarta Utara, Joko Santoso. mengapresiasi kinerja pengelola RPTRA Sungai Bambu yang terus berinovasi mengembangkan tanaman hidroponik.
"Akan ada ilmu yang disampaikan ke masyarakat sekitar tentang metode penanaman hidroponik. Jadi bukan cuma di RPTRA, tapi warga bisa terapkan di lingkungannya masing-masing sehingga mampu membangkitkan ekonomi masyarakat," ujar Joko.