JAKARTA UTARA, AYOJAKARTA.COM -- Adakah Anda yang masih asing dengan istilah Nelayan Wisata di Teluk Jakarta di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara? Selain sehari-hari mencari nafkah dari jasa membawa wisatawan Ancol berperahu, mereka adalah pahlawan ekosistem laut.
Kalau Anda ke Pantai Ancol, dengan mudah Anda menemukan sejumlah orang yang sibuk menawarkan jasa membawa wisatawan berperahu ke tengah Teluk Jakarta.
Namun, perjuangan mereka tidak sekadar mengumpulkan penumpang untuk dibawa dua kilometer selama 15 menit ke tengah perairan, tetapi juga "berdinas" 24 jam mengawasi Teluk Jakarta dari para pencuri kerang hijau.
Simak wawancara Ayojakarta dengan Ketua Perahu Wisata Ancol, Warsono. Lelaki berusia 50-an ini telah menjalani profesinya sejak tahun 1980-an. Dengan "jam terbang" demikian, pengalamannya menjaga Teluk Jakarta dari perusak ekosistem laut pun penuh lika-liku. Warsono sering kecolongan dengan aksi pencuri kerang yang beroperasi tengah malam sampai dini hari.
"Kecolongan itu seringnya malam, itu jam 24.00, jam 01.00 hingga jam 05.00," kata Warsono.
"Ada yang pernah (mencuri kerang) dua, tiga karung, yang per karungnya dua kilo. Itu mereka jual di luar Ancol, atau di sekolah-sekolah untuk direbus. Kan orang kampung sekitar Ancol enggak tahu mereka datang dari mana," tutur Warsono yang diwawancara pada waktu istirahatnya.
Sebelum larangan mengambil kerang diterapkan oleh pihak Taman Wisata Jaya Ancol, para nelayan wisata tidak bisa memberi tindakan tegas kepada oknum yang kepergok mencuri. Apalagi para pencuri kerang tersebut membayar tiket masuk ke area pantai Ancol. Pada umumnya mereka memasuki Ancol pada waktu subuh atau sekitar pukul 05.00-06.00.
"Kami sambil menjaga, saling informasi kepada pihak Ancol, ternyata mereka itu masuknya enggak gratis. Kan ada tiket Rp 4.000 tuh jam 5-6. Sekarang sih tidak boleh mengambil kerang hijau, tapi tetap ada saja yang nyolong," ungkap Warsono yang mengepalai 30 orang penjaga Teluk Jakarta ini.
AYO BACA : Butuh 450 Ton Kulit Kerang untuk Jernihkan Teluk Jakarta
Ada pula modus pencurian kerang dengan cara lebih modern, yakni dengan menyelam menggunakan alat selam atau sebutan nelayan adalah menggunakan trimus. Para pencuri membawa kerang tanpa terlihat.
"Secara modern ngambilnya. Saya ajak temen-temen saya usir, mereka itu di dalam air menggunakan trimus, lama berjam-jam, mereka rata-rata dari Muara Angke," jelasnya.
Menurutnya, pencurian kerang sudah tidak pernah terjadi selama tujuh bulan terakhir seiring pengamanan yang diperketat. Warsono juga berharap agar masyarakat luas menyadari bahwa kerang sangat penting untuk keberlangsungan ekosistem laut Teluk Jakarta.
"Tolong ya, ini kan kerang lagi dibudayakan untuk pembersihan pantai Ancol, kerang ijonya jangan diambil," tegasnya.
Kerang Hijau (Perna Viridis) merupakan filter feeder atau filter alami dari perairan laut yang dapat memperbaiki kualitas air. Sayangnya, karena marak pencurian kerang dan pencemaran air oleh limbah yang tidak diketahui asalnya, menyebabkan lumpur menyelimuti dasar laut.
Sementara hasil penelitian pakar kelautan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) beberapa tahun lalu menunjukkan, air laut di Teluk Jakarta mengandung silikat sebesar 52.156 ton, fosfat 6.741 ton, dan nitrogen 21.260 ton. Selain itu, pada kerang hijau yang hidup di Teluk Jakarta ditemukan logam berat seperti merkuri (Hg), cadmium (Cd), timbal (Pb), krom (Cr), dan timah (Sn).
Kini, pihak Taman Impian Jaya Ancol terus melakukan restorisasi kerang hijau. Targetnya, tahun ini bisa mendapatkan pertumbuhan 1.000 kilogram kerang hijau, sehingga akan ada 10 liter air yang difilterisasi setiap jam secara alami tanpa bantuan teknologi maupun manusia.
Satu kilogram kerang hijau mampu menyaring air sebanyak 10 liter per jam. Sebanyak 96 kilogram kerang hijau hasil restorasi yang dilakukan telah mampu menyaring 960 liter air laut secara alami dan menurunkan nitrogen sebanyak 21 mg per jam.
AYO BACA : Usaha Ancol Restorasi Teluk Jakarta Dengan Tebar 3 Ton Kerang Hijau