JAKARTA UTARA, AYOJAKARTA.COM--PT Jakarta Propertindo (Jakpro) mengumumkan pemenang tender pekerjaan proyek konstruksi utama Stadion Jakarta atau Jakarta International Stadium (JIS), Rabu (22/8) lalu. Ketiga perusahaan BUMN tersebut, yaitu Wijaya Karya, Jaya Konstruksi, dan PT Pembangunan Perumahan (PP).
Namun, warga Kampung Bayam yang berada di tengah lokasi pembangunan JIS masih mempertanyakan kelanjutan nasib mereka. Komar (50 tahun), salah satu warga Kampung Bayam, mengatakan, sudah ada pertemuan beberapa tokoh masyarakat dengan Jakpro pada pekan lalu.
Ia pun turut serta menghadiri rapat yang diselenggarakan di kantor Jakpro di Thamrin City, Jakarta Pusat. Namun, dalam pertemuan tersebut, belum menyinggung soal nasib tempat tinggal warga akibat dari pembangunan JIS.
"Kemarin, baru rapat kalau akan ada pemagaran di depan dan pemancangan. Pemagaran di samping belum dilakukan. Kalau untuk pembahasan tentang kita mau dipindahkan atau tidak, belum sampai sejauh itu," kata Komar saat ditemui Republika, Kamis (22/8/2019).
Komar menambahkan, usai pertemuan tersebut, ia dan beberapa tokoh masyarakat menyelenggarakan pertemuan di masjid bersama seluruh warga. Hasilnya, seluruh warga menunggu kebijakan pemerintah. Warga menerima keputusan apa pun asal harus selalu dikomunikasikan.
"Kalau nanti kita memungkinkan dibuatkan rumah yang layak di dalam stadion atau dipindahkan ke rusun atau tetap di sini. Kita menunggu keputusan saja yang penting harus dibicarakan baik-baik. Jangan tiba-tiba datang terus menggusur begitu saja. Poin pentingnya, kita dimanusiakan," ujar dia.
Dulu, warga kampung bayam banyak yang memilih tinggal di Taman BMW yang saat ini lahannya digunakan untuk proyek JIS. Setelah digusur, mereka tinggal di tenda-tenda pinggir rel kereta api.
Terakhir, mereka dipindahkan ke sebuah gang sepanjang kurang lebih satu kilometer yang dinamakan Kampung Bayam. Diperkirakan, sudah 13 tahun warga yang terdiri atas kurang lebih 600 KK tinggal di Kampung Bayam.
Komar mengaku, sejauh ini, nasib warga Kampung Bayam memang masih digantung. Selama tidak ada perlakuan tidak menyenangkan yang dilakukan Jakpro dan pemerintah, warga akan sabar menunggu adanya keputusan terkait nasib mereka.
"Pokoknya kalau enggak main kasar, kita menunggu saja. Selama ada iktikad baik, kita nurut. Tapi, harus diperhatikan pula kalau di sini kan warganya kebanyakan dari ekonomi sulit, bercocok tanam, pemulung, tukang sapu jalanan, dan yang lainnya. Tolong betul-betul dipikirkan nasibnya," kata dia menegaskan.