Jakarta Utara

Warna Kali Luarbatang Berubah Gara-gara Pencucian Karung

Oleh: Admin Jumat 02 Agu 2019, 13:59 WIB
Kantor Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, di Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Jumat (2/8/2019). (ANTARA/Andi Firdaus)

JAKARTA UTARA, AYOJAKARTA.COM--Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara menduga warna kecokelatan pada kandungan air kali di dekat Masjid Luarbatang, Kecamatan Penjaringan, berasal dari aktivitas pencucian karung lumpur.

"Sempat terlihat warna kecokelatan di kali tersebut, ada yang bilang itu kontaminasi minyak. Belum tentu minyak, karena di situ ada kegiatan pembangunan tanggul oleh Sumber Daya Air (SDA)," kata Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Dampak Pencemaran Lingkungan dan Kebersihan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, Suparman di Jakarta, Jumat (2/8/2019).

Asep menyebut peristiwa itu terjadi baru-baru ini bertepatan dengan tumpahan minyak dari pesisir Karawang hingga ke Pulau Seribu.

Warga di sekitar Pasar Ikan dekat Masjid Luarbatang sempat resah dengan perubahan warna kali yang kecokelatan.

Kali tersebut berlokasi di samping Kampung Akuarium, Penjaringan Jakarta Utara. Posisi air tidak mengalir karena pada bagian hilir menuju laut telah dibendung.

"Itu air diam, tapi kenapa warnanya berubah menjadi cokelat pekat," kata Suparman.

Hasil penelusuran pihaknya mendapati aktivitas sejumlah warga yang mencuci karung bekas urukan lumpur di kali tersebut.

"Karung itu semula berisi lumpur bekas got, karungnya dicuci di situ, kalau jumlahnya ribuan bisa kotori air. Kita lihat ada warga sekitar yang sedang mencuci karung," katanya.

Suparman mengatakan kecil kemungkinan kontaminasi itu berasal dari limbah, sebab tidak ada aktivitas industri di sekitar kawasan itu, baik pabrik maupun pertokoan.

"Kecuali kalau limbah itu dibuangnya pakai pompa, tapi persoalannya mesin itu butuh energi besar dan biaya besar," katanya.

Pihaknya telah melaporkan kejadian itu kepada Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta untuk dilakukan penanganan agar peristiwa ini tidak menjadi perdebatan di kalangan masyarakat, khususnya nelayan.

Reporter Admin
Editor Rizma Riyandi