Jakarta Utara

Berkunjung ke Kampung Kerang Hijau di Tepian Pantai Reklamasi

Oleh: Admin Rabu 03 Jul 2019, 15:06 WIB
Deretan bangunan yang berada di kawasan Pulau D hasil reklamasi, di kawasan pesisir Jakarta, Senin (17/6/2019). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah menerbitkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk sejumlah bangunan di Pulau C dan D. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/aww.

Krak..krak...krak. Itulah  bunyi patahan cangkang kerang saat terinjak oleh kaki yang melangkah. Saat bersamaan  bau amis  pun menyengat.

Suara krak dan bau itu menjadi tanda  bahwa anda telah tiba di Kawasan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara.

Kawasan yang selama ini dikenal sebagai sentra pengolahan hasil laut di DKI Jakarta itu ternyata pernah memiliki julukan kampung kerang hijau  karena daratannya ditutupi oleh kerang hijau. Daratan tersebut diciptakan oleh para penduduk korban penggusuran dari kawasan Kali Adem yang secara administratif tercatat sebagai RT 006 RW 022 Kelurahan Pluit.

Pada perkembangannya kawasan itu menjadi sentra pengolahan kerang hijau. Menurut cerita warga yang bernama Lokaeni, menjadi sentra sudah ada sejak tahun 1990 dan merupakan sentra kerang hijau yang pertama di Jakarta.

Namun jangan coba bayangkan jika akses jalan menuju sentra pengolahan kerang hijau sama seperti sentra pada umumnya yang memiliki jalan mulus dan tergolong bersih. Jalanan yang becek dan genangan air menjadi penyambut pertama untuk masuk ke lokasi pengolahan kerang hijau.
 Lokaeni atau yang biasa di sapa Ibu Lo itu telah menggeluti bisnis pengolahan kerang hijau sejak tahun 90-an, namun kini dia lebih memilih berprofesi sebagai pemilik warung.

Seiring waktu perubahan terjadi dengan adanya berbagai aktivitas di kawasan ini, sentra kerang yang biasa dimulai dari pagi hari dimana api tungku sudah menyala untuk merebus kerang kini sudah tidak terlihat lagi.

AYO BACA : Pemprov DKI Tertibkan IMB di Lahan Reklamasi

"Dulu jam delapan, jam sembilan udah rame yang ngerebus kerang, karena dulunya paling awal diolah di sini, baru setelah itu merembet ke daerah Cilincing. Sekarang jam sepuluh mulai aja udah lumayan paling nanti jam 12 baru mulai lah," ujar Lokaeni, sembari memotong sayur kol.

Lokaeni mengatakan, dulu ada  ratusan orang yang memiliki usaha pengolahan kerang hijau, bahkan sampai dia memiliki puluhan karyawan untuk mengolah kerang hijau. Mereka dibagi menjadi empat bagian, yakni merebus, mengupas, menangkap kerang, dan membawa kerang ke tempat pelelangan ujarnya.

Untuk satu pekerja Lokaeni memberi upah Rp15.000 per ember, ukuran ember yang dimaksud berdasarkan drum minyak ukuran 22 liter yang di potong menjadi dua bagian atau sekitar 30 kilogram isi kerang hijau.

"Dulu tuh disini banyak banget yang pada kerja, sampai saya bisalah nyekolahin anak lima, yang satu udah sarjana," ujar Lokaeni.

Tapi beda dulu dengan sekarang, keluhnya. Sekarang selain kerangnya sudah berkurang di laut, juga biaya untuk upah pekerja sudah mencapai Rp30.000 per ember.

Pada masa kejayaannya setiap pemilik usaha pengolahan kerang hijau mampu meraup omset hingga Rp3 juta per bulan. Sekarang untuk mendapatkan Rp100.000 per hari saja sulit.

AYO BACA : PDIP Sebut Terbitkan IMB di Lahan Reklamasi Salahi Aturan

Ia juga menambahkan dulu untuk mendapatkan kerang dari nelayan sanggat mudah, karena banyak nelayan yang memiliki keramba apung untuk ternak kerang hijau, sehingga harga pun menjadi lebih murah. Setiap harinya Lokaeni mampu membeli 10 kilogram seharga Rp12.000 tapi untuk saat ini harga per kilogram nya Rp5000.

Hal itu juga dirasakan salah satu pemilik usaha kerang hijau bernama Santi.  Menurut dia usahanya kini hanya tinggal bergantung apa yang laut berikan untuk nelayan, dari nelayan dapat kerang nya segitu ya segitu, ungkapnya. Santi pun mengatakan, dulu sebelum adanya reklamasi pulau G pendapatan nelayan melimpah dan kualitas kerangnya cukup bagus.

Dulu harga dari nelayan bisa mencapai Rp10.000 per 10 kilogram, kalau untuk kualitas yang besar bisa Rp12.000 per 10 kilogram nya, kalau saat ini bisa mencapai Rp5000 per kilogram nya, belum lagi kualitas kerang hijau sangat buruk dan tercemar limbah.

Keluhan tersebut tidak hanya dari para pengusaha, tapi dari nelayan itu sendiri. Seperti yang disampaikan oleh Tandek nelayan Muara Angke yang telah puluhan tahun melaut di perairan  pantai utara Jakarta.

Dia menceritakan  sebelum reklamasi, laut masih dipenuhi ikan dan sangat mudah untuk berternak kerang hijau. Hanya dengan memasang keramba jala apung, ia mampu menghasilkan uang Rp100.000 per harinya dengan kualitas kerang hijau yang baik.

Berbeda dengan saat ini, ini karena banyaknya pulau reklamasi, kerang hijau jadi banyak yang berlumpur.

Nelayan bertubuh tambun itu menambahkan, bahwa permasalahan baru untuk perairan laut teluk Jakarta terkait kerang hijau kini sulit diternak karena selain adanya reklamasi, banyak pabrik membuang limbahnya ke laut sehingga mengakibatkan kerang hijau banyak yang mati.

Tandek berharap agar pemerintah mampu memperhatikan nasib mereka untuk masa depan anak-anak di Kampung Kerang. Karena Semakin sulit pencarian kerang hijau di kawasan itu, mengakibatkan meredupnya roda ekonomi bagi kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir pantai utara Jakarta.

AYO BACA : Jalan Mundur, Aksi Menolak IMB di Pulau Reklamasi

Reporter Admin
Editor Rizma Riyandi