AYOJAKARTA.COM - Kasus ledakan yang mengguncang SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Jumat, 7 November 2025 siang, menyisakan banyak pertanyaan.
Polisi masih menyelidiki penyebab pasti ledakan yang terjadi saat salat Jumat di masjid sekolah tersebut. Namun, di balik kepulan asap dan kepanikan, muncul dugaan bahwa pelaku ledakan adalah korban bullying.
Salah satu siswa, berinisial Z, mengungkap bahwa terduga pelaku dikenal tertutup dan diduga sering menjadi sasaran perundungan. Meski belum ada bukti kuat, dugaan ini membuka ruang diskusi lebih luas mengenai seberapa besar dampak bullying terhadap perilaku ekstrem di kalangan remaja?
Menurut para ahli, bullying bukan sekadar kenakalan remaja. Peter K. Smith dkk. (2004) dalam Bullying in Schools: How Successful Can Interventions Be? menjelaskan bahwa perundungan yang terjadi terus-menerus dapat menimbulkan trauma mendalam, rasa terisolasi, dan kemarahan yang terpendam.
Dalam kondisi psikologis tertentu, korban bisa kehilangan arah dan menjadi rentan terhadap pengaruh ideologi ekstrem atau bahkan kekerasan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa korban bullying sering mengalami alienasi sosial, rasa dendam, dan kerentanan emosional.
Ketika tidak mendapat dukungan dari lingkungan, mereka cenderung mencari penerimaan di tempat lain, bahkan dalam kelompok berbahaya yang menawarkan identitas baru dan pembenaran atas kemarahan mereka.
Baca Juga: Kebakaran di Grogol Utara, Transjakarta Alihkan Rute untuk Sementara
Kasus serupa pernah terjadi di berbagai negara, di mana pelaku aksi kekerasan di sekolah memiliki latar belakang sebagai korban bullying.
Bahkan di Indonesia, seorang mantan narapidana terorisme asal Solo mengakui bahwa perundungan atas kondisi ekonominya menjadi titik awal ia terjerumus ke dunia kriminal dan radikal. Tragedi di SMAN 72 Kelapa Gading semestinya menjadi peringatan bahwa bullying bukan masalah sepele.
Ia bisa menjadi awal dari rantai panjang kekerasan, bahkan teror. Pencegahan tidak cukup hanya dengan hukuman, tetapi perlu pendampingan psikologis, lingkungan sekolah yang inklusif, dan komunikasi terbuka antara guru, siswa, dan orang tua.
Dengan memahami akar persoalan seperti bullying, kita bisa mencegah lahirnya luka-luka sosial yang kelak berubah menjadi tragedi seperti yang baru saja terjadi di Kelapa Gading.***
Baca Juga: 7 Fakta Kasus Ledakan SMAN 72 Jakarta, Penyebab Masih dalam Penyelidikan