AYOJAKARTA.COM – Ada sebagian orang yang memiliki jiwa leadership atau kepepimpinan yang sangat tinggi di dalam dirinya.
Orang-orang berjiwa kepemimpinan biasanya identik dengan watak yang ambisius dan juga tegas.
Orang-orang dengan kepribadian berjiwa leadership juga selalu ingin menjadi yang utama dalam soal apapun.
Namun sayangnya, masih ada juga tipe manusia yang justru menyalahgunakan kepemimpinan yang ia miliki.
Manusia seperti ini biasanya memanfaatkan posisinya sebagai pemimpin untuk kepentingan diri sendiri.
Lantas bagaimanakah seharusnya jiwa seorang pemimpin yang benar? Berikut penjelasan Kyai Maimoen Zubair saat dikutip AyoJakarta.com dari laman Instagram Ppalanwarsarang pada (5/10/20).
Kyai Maimoen Zubair atau Mbah Moen menuturkan jika seseorang dianggap bisa menjadi pemimpin apabila bisa menjalin hubungan ke semuanya tanpa pilih kasih.
“Orang itu kalau bisa memimpin, bisa menjalin hubungan kepada semua orang,” ujar Mbah Moen.
Baca Juga: Mbah Moen Ungkap 7 Ayat Alquran yang Wajib Dihafal Orang Muslim
Mbah Moen lantas memfilosofikan kepemimpinan dengan sebuah kalimat syahadat dalam pewayangan atau biasa disebut kalimosodo.
“Jadi kalimosodo, sodo yang pertama adalah kunto, bisa menjalin hubungan ke semua orang yang dipimpinnya, tidak membeda-bedakan juga tidak rakus akan harta,” jelas Mbah Moen.
Maka dari itu salah satu tokoh pewayangan bernama Kuntodewo diibaratkan seperti ibu jari.
“Makanya Kuntodewo itu (diibaratkan) seperti halnya ibu jari, dia pendek dan mau condong,” tutur Mbah Moen.
Lebih lanjut beliau menjelaskan, “Ibu jari itu bisa kemana saja, kesini (ke jari telunjuk) bisa, kesini (ke jari tengah) bisa, ke sini (ke jari manis) bisa, ke sini (ke jari kelingking bisa).
Maka dari itu, Mbah Moen menegaskan bahwa jika menjadi seorang pemimpin tidak boleh sombong.
“Makanya tidak boleh sombong!” tegas Mbah Moen. ***