Khazanah

Gus Baha, Murid Kinasih Mbah Moen, Bercerita Ketika Malaikat Izrail Hendak Mencabut Nyawa Nabi Ibrahim

Oleh: Admin Selasa 01 Nov 2022, 12:39 WIB
Kiai A. Bahauddin Nursalim alias Gus Baha, murid kinasih Kiai Maimoen Zubari atau Mbah Moen

AYOJAKARTA.COMGus Baha yang bernama lengkap Bahauddin Nursalim adalah kiai Nahdlatul Ulama (NU) yang kini pengajiannya banyak diminati umat Islam, tidak terbatas kalangan nahdliyin.

Pengajian dari murid kinasih Kiai Maimoen Zubair, kerap disapa Mbah Moen, ini banyak tersebar di kanal YouTube. Penggalan video pendeknya pun banyak muncul di TikTok.

Salah satu daya tarik dari pengajian Gus Baha, meski kadang lebih banyak menggunakan bahasa Jawa, adalah penyajiannya yang bersahaja dan sederhana. Apalagi murid Mbah Moen ini juga pandai melemparkan lelucon.

Namun dari sisi keilmuan, Gus Baha punya derajat yang tinggi di kalangan ulama, tidak hanya para kiai NU.

Dalam satu penggalan video ceramahnya, Gus Baha bercerita tentang bagaimana ketika Malaikat Izrail hendak mencabut nyawa Nabi Ibrahim alaihissalam.

Baca Juga: Cek di Sini Info KJMU Tahap 2 & KJP November 2022 Kapan Cair

Menurut Gus Baha, Nabi Ibrahim memiliki ruangan khusus di rumahnya untuk menjalankan shalat. “Dan tidak boleh siapapun masuk situ,” kata Gus Baha.

Suatu ketika, ternyata tahu-tahu sudah ada ‘seseorang’ berada di dalam ruangan khusus tersebut dan terjadilah komunikasi Nabi Ibrahim dengan makhluk itu seperti diceritakan oleh Gus Baha sebagai berikut:

Siapa yang memberi izin ke kamu,” tanya Nabi Ibrahim.

“Yang punya rumah ini,” kata sang tamu.

Saya yang punya rumah, dan saya tidak memberi izin (kepada) kamu,” sambung Nabi Ibrahim.

“Yang memberi izin saya itu yang memiliki saya, kamu, dan rumah ini [ya itu Allah SWT],” sang tamu malah menjawab demikian.

Berarti kamu malaikat?” tanya Nabi Ibrahim.

Ya, saya malaikat. Disuruh nyabut nyawa kamu,” kata sang tamu yang memang adalah Malaikat Izrail.

Dialog Nabi Ibrahim dan Malaikat Izrail berlanjut.

Wah Anda pasti keliru. Saya ini khalilul rahman, saya ini kekasih Allah. Masak ada kekasih yang membunuh yang dikasihi?” kata Nabi Ibrahim yang ditirukan Gus Baha.

Menurut murid Mbah Moen itu, penjelasan Nabi Ibrahim bikin Malaikat Izrail berpikir dan merasa hal itu sesuatu yang masuk akal.

Iya ya, masak ini kekasih Allah, kemudian oleh Allah dibunuh, dimatikan,” pikir Malaikat Izrail seperti ditirukan Gus Baha.

Malaikat Izrail, menurut kisah yang disampaikan oleh Gus Baha, lantas kembali menemui Allah.

Ya Allah, kata (Nabi) Ibrahim, ‘masak kekasih bunuh yang dikasihi?’. Kayaknya masuk akal ya Gusti,” kata Malaikat Izrail.

Kemudian Allah memerintahkan Malaikat Izrail kembali kepada Nabi Ibrahim sambil membawa pesan-Nya. Malaikat Izrail kembali menemui Nabi Ibrahim sambil menyampaikan pesan Allah.

Masak kekasih tidak siap ketemu yang dikasihi?” kata Malaikat Izrail menyampaikan pesan Allah kepada Nabi Ibrahim.

Setelah itu, menurut Gus Baha, Nabi Ibrahim bersedia untuk dicabut nyawanya oleh Malaikat Izrail.

Kisah dialog orang-orang pilihan tersebut, menurut Gus Baha, memberikan pelajaran bahwa setiap kebaikan itu memiliki rata-rata memiliki logika sendiri.

Baca Juga: PKH November 2022 Kapan Cair: Klik cekbansos.kemensos.go.id

Profil Gus Baha

Gus Baha yang bernama lengkap KH Ahmad Bahauddin Nursalim adalah kyai muda asal Rembang, Jawa Tengah.

Dia sosok yang yang berusaha menguatkan tradisi intelektual pesantren dan tasawuf.

Selain pada ayahnya Kyai Haji Nursalim dia juga melewati masa remaja dengan belajar Al Quran pada KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) di Pondok Pesantren Al-Anwar Karangmangu, Rembang.

Gus Baha adalah sedikit dari ulama tafsir yang dimiliki Indonesia. Dia memiliki tafsir mendalam dan menjadi Ketua Lajnah Mushaf di Lembaga Tafsir Al-Quran Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Di zaman digital ini, ceramah dan kajian-kajian Gus Baha bertebaran di media sosial.

Video ini membuat dia memiliki ribuan pengikut setia di platform media sosial Youtube, Facebook maupun Instagram.

Gus Baha masuk dalam jajaran Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan anggota Dewan Tafsir Nasional.

Reporter Admin
Editor Eries Adlin