AYOJAKARTA.COM – Tiga tahun sudah berlalu sejak kematian Mbah Moen masih meninggalkan kenangan yang tak lekang oleh waktu.
Kehilangan seseorang yang menjadi panutan ini menjadi luka mendalam untuk semua orang.
Mbah Moen merupakan sosok yang baik. Dia memiliki kematangan spiritual dan keluasan intelektual yang cukup sempurna dimata semua orang.
Berdiri di tengah dan mengayomi siapapun. Bahkan dalam situasi sengketa, orang meminta suaramu untuk mendamaikan dan memberi jalan keluar. Mungkin karena itu juga kharismamu menjadi pusat dan tujuan rebutan kuasa dan tahta.
Mengutip dari wikipedia.org (6/8), Kyai Haji Maimun Zubair, dalam ejaan lama disebut Maimoen Zoebair, yang lahir pada 28 Oktober 1928 dan wafat pada 6 Agustus 2019 lalu, atau akrab dipanggil Mbah Moen, adalah seorang ulama dan politikus Indonesia.
Mbah Moen wafat setelah melaksanakan shalat Subuh, pada pukul 04.30 waktu setempat di rumah sakit An-Nur Mekkah. Ia dimakamkan pada 6 Agustus 2019 di Ma'la, Mekkah. Untuk Makamnya ini berdekatan dengan makam guru beliau yaitu Sayyid Alawi al-Maliki al-Hasani dan makam istri Rasulullah saw, Sayyidah Khadijah.
Baca Juga: Mbah Moen Larang Meludah di 2 Tempat Ini, Bisa Mempersempit Rezeki Jika Dilanggar!
KH Muhammad Najih Maimoen sendiri merupakan putra dari almarhum ulama besar Indonesia, KH Maimoen Zubair alias Mbah Moen.
Kisah-kisah dan juga karomah yang dimiliki oleh beliau tak asing lagi untuk kita karena selalu muncul dalam berbagai kesempatan, baik itu melalui tutur lisan, maupun tulisan.
Dilansir dari suara.com (6/8), Ustadz H. Makmum Kholil, salah satu saksi hidup prosesi pemakaman Mbah Moen di Ma’la Makkah, berinisiatif untuk menuliskan sedikit kisah-kisah keteladanan sang kyai dalam sebuah buku setebal 296 halaman berjudul Mbah Maimun: Kisah-kisah Kemuliaan Guru Semua Golongan.
Baca Juga: Mbah Moen Sebut Orang yang Lahir di Bulan Ini Sudah Punya Dasar Jadi Orang Kaya, Bulan Apakah Itu?
Dalam buku kisah mbah moen ini kita bisa ambil pelajaran sebagai berikut:
Tentang Cinta Tanah Air
Kisah Mbak Moen dalam buku ini menceritakan bahwa beliau selalu menanamkan kepada santri-santri dan putra-putranya bagaimana mencintai negara, hubbul wathan minal iman, bahwa mencintai negara adalah sebagian dari iman”.
Tentang Nilai-Nilai Kemanusiaan
Cerita Mbah Moen yang dikenal sebagai ulama yang tak pernah pilih-pilih dalam menerima tamu yang berkunjung ke kediaman beliau bukanlah rahasia umum lagi. Siapapun yang datang ke kediamannya, Mbah Moen selalu menyambutnya dengan senang hati, tak membedakan tamunya pejabat ataupun orang yang tak berpunya, Islam ataupun berbeda keyakinan.
Tentang Kesederhanaan Hidup
Seperti yang diceritakan dalam kisah buku Mbah Moen yang banyak politikus dan juga pengusaha dalam merayu Mbah Moen untuk membangunkan kediaman yang besar dan mewah, namun beliau selalu menolaknya dengan halus dan lebih memilih jalan hidup sederhana hingga keberangkatan beliau bertemu dengan sang Pencipta.***