Khazanah

Jelang Lebaran Idul Fitri 2024, Ini Sejarah Istilah Halal Bihalal di Indonesia yang Ada Sejak Abad 15 Masehi

Oleh: Karseno AJ Minggu 07 Apr 2024, 17:28 WIB
Illustrasi. Halal BIhalal

AYOJAKARTA.COM - Setiap perayaan Idul Fitri berlangsung, masyarakat Islam di Indonesia kerap menggunakan istilah Halal Bihalal sebagai wahana silaturahmi.

Meski penggunaan istilah Halal Bihalal hanya terjadi di Indonesia, namun kalimat tersebut telah menjadi bagian penting dari setiap perayaan Idul Fitri.

Istilah Halal Bihalal yang memiliki makna saling memberikan maaf kepada sesama saat Idul Fitri merupakan bagian penting dari sejarah panjang bangsa Indonesia.

Baca Juga: Ramai Kabar BLT MRP Cair Besok, 3 Fakta Penyaluran Bantuan Sosial Cek di Sini

Sebab dari kalimat tersebut, embrio bangsa Indonesia yang saat itu baru mengalami kemerdekaan; bisa bertahan sampai dengan hari ini.

Untuk lebih mendalami hal tersebut, berikut ini adalah sejarah awal lahirnya istilah Halal Bihalal yang menjadi istilah khas Idul Fitri di Indonesia.

Sejarah Halal Bihala di Indonesia

Memasuki tahun ketiga kemerdekaan Indonesia atau pada tahun 1948, kondisi politik di dalam negeri diwarnai banyak perselisihan.

Selain terjadi pemberontakan di sejumlah daerah, para petinggi dan tokoh-tokoh politik juga berseteru sehingga membuat suasana politik semakin kacau.

Guna menangani situasi bangsa yang semakin porak-poranda, Soekarno sebagai Presiden kemudian berencana menggelar kegiatan silaturahmi para tokoh bangsa.

Untuk memuluskan rencana, Soekarno juga meminta kehadiran dari salah satu pendiri organisasi Nahdlatul Ulama yakni KH Wahab Hasbullah.

Dari pertemuannya dengan KH Wahab Hasbullah, Soekarno kemudian mendapati kalimat Halal Bihalal yang memiliki makna pemurnian kesalahan atau purifikasi kepentingan politik.

Baca Juga: Tes Kepribadian: Bagaimana Kamu Memperlakukan Orang yang Kamu Cintai? Gambar yang Pertama Kali Kamu Lihat Mengungkap Kebenaran Karaktermu

Dengan mengusung gagasan Halal Bihalal, acara pertemuan yang dihadiri oleh tokoh-tokoh politik se-Indonesia-pun sukses terselenggara,.

Buah dari semangat kebangsaan dan kesuksesan acara Halal Bihalal tersebut, ancaman-ancaman disintegrasi bangsa berhasil ditiadakan.

Terkait dengan istilah Halal Bihalal yang digagas KH Wahab Hasbullah kepada Soekarno, istilah serupa juga pernah terjadi di abad 15 Masehi di era Kesultanan Cirebon.

Tertulis di naskah Sejarah Sagung Ing Para Ratu halaman 119, dikisahkan proses berlayar Sunan Gunung Jati yang ingin menemui Gurunya yakni Syekh Nurjati.

Selain bentuk penghormatan dan menjalin kasih sayang atau silaturahim, kedatangan Sunan Gunung Jati juga untuk melakukan Halal Bahalal atau pemurnian hubungan.

Disamping tertulis dalam naskah Sejarah Sagung Ing Para Ratu yang kini tersimpan di India Office Library, London, istilah serupa juga tertuang dalam naskah Banten Cirebon.

Menurut kisah yang disampaikan Hasanudin yang merupakan pendiri kesultanan Banten, Halal Bahalal merupakan bagian dari sejarah Jepara.

Sebagai bagian dari perayaan Idul Fitri, rakyat akan memenuhi Masjid Agung Jepara untuk bersalaman langsung dengan Penguasa Jepara Pangeran Karang Kemuning.

Reporter Karseno AJ
Editor Jinan Vania Barizky