Khazanah

Bolehkah Makan Setelah Imsak? Pahami Tradisi Imsak di Indonesia dan Perdebatan tentang Kapan Mulainya Puasa

Oleh: Iit Lita Apriani Senin 25 Mar 2024, 21:25 WIB
Ilustrasi. Tradisi imsak telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan praktik keagamaan selama bulan Ramadhan di Indonesia.

AYOJAKARTA.COM — Tradisi imsak telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan praktik keagamaan selama bulan Ramadhan di Indonesia.

Imsak, yang merupakan waktu di mana umat Islam berhenti makan dan minum sebagai persiapan untuk memulai puasa sehari penuh, sering kali menjadi topik perdebatan yang hangat setiap tahunnya.

Beberapa daerah di Indonesia memiliki tradisi khusus terkait imsak, di mana menggunakan alat tradisional seperti bedug atau alat lainnya untuk memberi tahu waktu imsak kepada warga setempat.

Namun, perdebatan seputar imsak tidak hanya berkutat pada aspek tradisional semata, melainkan juga mencakup aspek hukum dan keagamaan.

Salah satu perdebatan yang kerap muncul adalah terkait dengan keabsahan tradisi imsak dalam konteks agama.

Beberapa klaim menyatakan bahwa tradisi imsak di Indonesia merupakan tindakan yang salah kaprah dan tidak bersumber kembali secara tekstual maupun kontekstual.

Baca Juga: Ini Penjelasan tentang Batas Jam Sahur selama Bulan Ramadhan, Apakah Imsak Batas Waktu Makan Sahur?

Namun, apakah benar tradisi imsak di Indonesia tidak memiliki dasar tekstual atau kontekstual?

Dalam kajian hadits, ditemukan bahwa meskipun kata 'imsak' tidak secara eksplisit disebutkan dalam hadits, namun praktik menahan diri sebagai persiapan menuju azan Subuh telah disebutkan secara implisit dalam beberapa riwayat, dikutip dari NU Online.

Salah satu hadits yang sering dikutip adalah riwayat tentang Nabi Muhammad saw yang menyelesaikan makan sahur dan memberi durasi waktu sekitar 50 ayat Al-Quran sebelum azan Subuh.

Meskipun istilah 'imsak' tidak digunakan dalam fiqih secara khusus, namun praktik menahan diri sebagai persiapan menuju azan Subuh telah menjadi bagian dari sunnah Nabi.

Hal ini diperkuat oleh berbagai penjelasan ulama tentang keharusan menahan diri dari makan dan minum setelah azan Subuh berkumandang.

Namun, perdebatan terkait imsak tidak hanya sebatas pada praktik menahan diri sebelum azan Subuh, melainkan juga mencakup permasalahan tentang apakah seseorang boleh melanjutkan makan sahur setelah azan Subuh berkumandang.

Beberapa ulama berpendapat bahwa jika makanan masih ada di mulut seseorang ketika azan berkumandang, maka makanan tersebut harus dibuang dan puasa harus dilanjutkan.

Baca Juga: Awas Batal Puasa, Batas Waktu Makan Sahur yang Benar Imsak atau Adzan Subuh? Begini Penjelasan Para Ulama

Namun, terdapat juga pendapat lain yang memperbolehkan seseorang untuk melanjutkan makan sahur jika masih ada makanan di mulutnya ketika azan berkumandang.

Mereka berargumen bahwa hadits yang menyatakan agar tidak meletakkan gelas makanan sampai selesai meminumnya tidak bertentangan dengan hadits tentang menahan diri setelah azan berkumandang.

Dalam menyikapi perdebatan ini, penting untuk memahami bahwa pemahaman terhadap ajaran Islam memerlukan keutuhan dan kejelian dalam memahami hadits serta konteksnya.***

Reporter Iit Lita Apriani
Editor Tedi Rukmana