Khazanah

Jadi Warisan dari Penyebar Ajaran Islam di Nusantara, Ternyata ini Sejarah Perayaan Hari Idul Fitri di Indonesia

Oleh: Karseno AJ Selasa 25 Mar 2025, 12:47 WIB
Bagi umat muslim di Indonesia, perayaan Idul Fitri merupakan peristiwa besar keagamaan yang patut untuk dirayakan.

AYOJAKARTA.COM -- Bagi umat muslim di Indonesia, perayaan Idul Fitri merupakan peristiwa besar keagamaan yang patut untuk dirayakan.

Selain dianggap sebagai Hari Kemenangan karena berhasil mengalahkan berbagai dorongan nafsu selama bulan Ramadhan, Idul Fitri juga merupakan dasar lahirnya rasa syukur.

Salah satu bentuk implementasi rasa syukur dan kebahagiaan dalam Idul Fitri dibuktikan oleh umat muslim Indonesia dengan saling berbagi makanan ataupun rezeki.

Baca Juga: Menghidupkan Malam Idul Fitri dengan Perbanyak Doa Sesuai dengan Hadist Nabi dari Ali bin Abi Thalib, Begini Bunyinya

Selain berbagai makanan dan rezeki, tradisi unik yang ada di Indonesia setiap perayaan Idul Fitri adalah kembali ke kampung halaman atau tempat kelahiran alias Mudik.

Melalui tindakan saling berbagi, kualitas hubungan dan kasih sayang antara sesama kaum muslim serta manusia secara menyeluruh akan menjadi semakin solid atau manunggal.

Berdasarkan catatan sejarah di Nusantara, berbagai tradisi saling berbagi dalam perayaan Idul Fitri tidak lepas dari para penyebar Islam.

Pertama kali masuk ke wilayah Nusantara pada abad ketujuh Masehi di wilayah Sumatera melalui jalur perdagangan, Islam mulai semakin diterima pada sekitar abad 13.

Baca Juga: Indonesia Punya Budaya Mudik, 4 Negara Ini Punya Tradisi Berbeda Setiap Idul Fitri Loh! Sudah Tahu?

Dengan menggunakan pendekatan budaya sebagaimana dipelopori Sunan Kalijaga, perkembangan Islam di pulau Jawa banyak mengalami akulturasi dengan tradisi asli.

Salah satu bentuk peninggalan tradisi yang diajarkan Para Wali setiap menyambut hari Idul Fitri adalah dengan menggelar acara Grebeg Syawal.

Dalam acara Grebeg Syawal, kaum berpunya akan secara swadaya menyiapkan berbagai jenis makanan untuk dibagikan kepada kaum papa.

Selain dianggap sebagai bentuk kebersamaan yang mengedepankan prinsip egaliter, Grebeg Syawal membuat syiar Islam semakin meluas ke berbagai wilayah.

Baca Juga: Idul Fitri Artinya 'Hari Raya' atau 'Kembali Suci'? Ternyata Ini yang Benar secara Harfiah

Sedangkan sejarah mudik, menurut berbagai catatan juga tidak lepas dari aktivitas tahunan para santri yang menimba ilmu agama dan hidup di pondok-pondok.

Setiap kali memasuki perayaan Idul Fitri, para santri akan kembali ke tempat kelahiran masing-masing untuk menularkan ilmu ke masing-masing keluarga.

Meski sempat ditentang oleh kolonial Belanda, perayaan Idul Fitri perlahan diakui sehingga para pekerja diberikan kesempatan berlibur dan berkumpul bersama keluarga.

Dalam perkembangannya, kesempatan berkumpul bersama keluarga saat Idul Fitri menjadi ajang bagi para pejuang untuk menyatukan tekad dan kekuatan.

Baca Juga: Setelah Aplikasi Mudikpedia 2025, Kemkomdigi Gandeng Operator Seluler Berikan Diskon selama Musim Lebaran Idul Fitri 1446 H

Usai merdeka pada tahun 1945, setahun berselang pemerintah Indonesia dibawah Presiden Soekarno meresmikan Idul Fitri sebagai hari besar keagamaan.

Saat terjadi konflik ideologis di kalangan politisi, Presiden Soekarno atas inisiasi KH Wahab Hasbullah memperkenalkan gerakan moral bertajuk Halal Bihalal.

Bermula dari salah satu upaya melakukan rekonsiliasi politik, istilah Halal Bihalal hingga hari ini menjadi bagian perayaan Idul Fitri di Indonesia.***

Reporter Karseno AJ
Editor Eneng Reni Nuraisyah Jamil