Khazanah

Jangan Sembarangan Bicara di Bulan Ramadan! Ucapan Kasar Bisa Menghapus Pahala Puasa

Oleh: Fina Salsabila Aura Selasa 18 Mar 2025, 19:54 WIB
Setiap aturan dan larangan dalam Islam, termasuk larangan berucap kotor, ditetapkan untuk melindungi kehormatan sesama manusia.

AYOJAKARTA.COM – Dalam sebuah kajian ba’da subuh, Ustadz Adi Hidayat mengulas salah satu topik penting dari kitab Sahih Al-Bukhari, khususnya terkait pembahasan puasa (Kitabus Shiyam).

Dari total 69 subtema dalam bab puasa tersebut, kali ini yang menjadi fokus adalah subtema kedelapan, yakni tentang hal-hal yang bisa merusak pahala ibadah puasa Ramadan.

Dalam pembahasan ini, Ustadz Adi mengangkat hadis nomor 1903 yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dengan judul "Babu Man Lam Yada Qaulazzur Wal ‘Amala Bihi Fishiyam" yang berarti "Bab tentang orang yang tidak meninggalkan perkataan kotor dan perbuatan buruk saat berpuasa."

Hadis ini bersumber dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, di mana Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang yang tidak mampu menahan diri dari ucapan tercela (qaulazzur) selama berpuasa, dikhawatirkan puasanya tidak memiliki nilai di sisi Allah SWT.

Istilah qaulazzur meliputi segala bentuk perkataan tidak baik, mulai dari makian, hinaan, hingga kata-kata kasar yang menyakiti atau merendahkan orang lain.

Baca Juga: Begini Cara Cepat Lapor ke Polisi! Dedi Mulyadi Siap Tindak Aksi Premanisme Minta THR

Dalam kajiannya, Ustadz Adi Hidayat menyoroti pentingnya menjaga lisan. Menurut beliau, lisan adalah representasi dari isi hati dan pikiran seseorang, dan tergelincir dalam ucapan bisa lebih berbahaya dibandingkan terpeleset secara fisik.

“Lisan yang tergelincir bisa menjatuhkan kehormatan seseorang, lebih parah daripada tergelincir kaki,” ujarnya.

Penekanan terhadap pentingnya menjaga lisan juga banyak dijumpai dalam Al-Qur’an maupun hadis Nabi Muhammad SAW, terlebih lagi di bulan Ramadan. Puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih diri agar bisa mengontrol lisan dengan ucapan yang santun dan bermakna.

Dengan begitu, setelah Ramadan berakhir, lisan kita akan terbiasa menjadi media penyampai pikiran dan keinginan dengan cara yang bijak, sopan, dan tidak menyakiti orang lain.

Baca Juga: Tidak Panas dan Tidak Hujan! Tanda-Tanda Alam Munculnya Malam Lailatul Qadar

Ustadz Adi juga menambahkan bahwa Islam sangat memuliakan manusia, dan hal ini tercermin dari larangan-larangan terhadap ucapan buruk.

"Mengapa berkata kotor dilarang? Karena untuk menjaga kehormatan manusia. Mengapa mencela dan menghina dilarang? Karena itu bisa menjatuhkan martabatnya," ucapnya.

Setiap aturan dan larangan dalam Islam, termasuk larangan berucap kotor, ditetapkan untuk melindungi kehormatan sesama manusia.

Dalam konteks ibadah puasa Ramadan, menjaga lisan menjadi hal yang sangat penting. Sebab jika tidak, meskipun seseorang telah berpuasa sepanjang hari, menahan lapar dan dahaga, pahala puasanya bisa gugur begitu saja di hadapan Allah SWT.

Inilah yang dimaksud oleh Ustadz Adi Hidayat ketika beliau mengatakan, "Akhirnya puasanya hanya sebatas menahan lapar dan haus, namun tidak ada nilainya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala."

Reporter Fina Salsabila Aura
Editor Aris Abdulsalam