AYOJAKARTA.COM - Bulan Ramadhan memiliki kedudukan istimewa dalam Islam sebagai periode pengampunan dosa bagi umat Muslim.
Menurut penjelasan Buya Yahya, Ramadhan adalah bulan pengampunan yang Allah SWT jadikan sebagai rahmat bagi umat-Nya.
"Allah yang Maha Kasih menjadikan Ramadhan adalah bulan Pengampunan Dosa," tegas Buya Yahya dalam ceramahnya.
Baca Juga: iPhone 16 Series di Indonesia: Prediksi Harga dan Keunggulan yang Bisa Kamu Nikmati
Beliau mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Hurairah radhiallahu ta'ala anhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Shalatul khamsyi wash-shalatu ilal-jum'ati wal-jum'atu ilal-jum'ati, wa Ramadhanu ila Ramadhana mukaffiratun lima bainahunna" (Salat lima waktu ke salat berikutnya, salat Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya merupakan penghapus dosa di antaranya).
Buya Yahya menjelaskan bahwa ini menunjukkan adanya sistem penghapusan dosa yang Allah tetapkan:
- penghapus dosa harian melalui shalat lima waktu,
- penghapus dosa mingguan melalui shalat Jumat, dan
- penghapus dosa tahunan melalui puasa Ramadhan.
Dalam penjelasannya, Buya Yahya menekankan bahwa meskipun terlihat mudah untuk mendapatkan pengampunan di bulan Ramadhan, terdapat syarat penting yang harus dipenuhi.
"Tapi syaratnya meninggalkan dosa-dosa gede, artinya dosa kecil akan diampuni dengan itu semuanya. Adapun dosa gede harus dengan tobat yang khusus," jelas Buya Yahya.
Beliau juga memperingatkan jamaahnya untuk tidak meremehkan dosa kecil:
"Biarpun yang dikatakan dosa kecil, kalau orang itu sombong dengan dosa-dosanya, maka ketahuilah Allah tidak akan mengampuni dosa tersebut sekecil apapun. Dosa itu menjadi sebab hukuman dari Allah selagi Allah tidak mengampuni."
Buya Yahya mengutip hadits shahih yang menyebutkan bahwa pengampunan didapatkan oleh mereka yang berpuasa dengan keimanan (iman) dan mengharap pahala dari Allah (ihtisaban):
"Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan, meyakini kalau ini perintah dari Allah yakin, kemudian wahtisaban mengharap pahala dari Allah, yakni beribadah hanya karena Allah, maka keyakinan itu dan pengharapan dari Allah ini menjadi sebab diampuni dosanya."
Untuk memaksimalkan momentum penghapusan dosa pada bulan Ramadhan, Buya Yahya menegaskan bahwa seorang Muslim tidak cukup hanya mengandalkan masuknya bulan Ramadhan tanpa melakukan amalan-amalan.
"Alangkah mudahnya mendapatkan pengampunan, makanya yang ingin diampuni bulan Ramadhan tidak hanya 'oh masuk Ramadan aku diampuni'.
Harus ada yang kita lakukan yaitu ini tadi, melakukan puasa di bulan Ramadhan, mq Ramadhana, beribadah di malam Ramadhan, tarawih, witir, dan seterusnya, membaca Al-Qur'an, menghidupkan malam Ramadhan dengan beribadah. Itu sebab diampuni oleh Allah," terang Buya Yahya.
Beliau juga mengkritik sikap simbolis dalam menyambut Ramadhan: "Jangan hanya mengatakan Ramadhan bulan pengampunan, wah ditulis spanduk gede tapi enggak pernah bangun malam, spanduk enggak menjadi sebab diampuni oleh Allah."
Buya Yahya menambahkan bahwa pawai Ramadhan seharusnya menjadi pengingat, bukan tujuan akhir: "Pawai gede-gedean itu menggugah orang agar ingat Ramadan, bukan pawai itu segala-galanya.
Setelah pawai harus setelah itu menghidupkan Ramadhan, setelah kita mengingatkan orang agar berpuasa di bulan Ramadhan maka setelah memasuki bulan Ramadhan hendaknya kita harus melakukan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan."***