Khazanah

Tanggapan KH Ahmad Muwafiq Soal Tahun Baru Muharram atau 1 Suro yang Dianggap Bulan Sial Penuh Klenik

Oleh: Karseno AJ Selasa 18 Jul 2023, 14:45 WIB
KH Ahmad Muwafiq

AYOJAKARTA.COM - Tanggal 1 Muharram atau Suro merupakan waktu pergantian tahun dalam sistem kalender Hijriah.

Pada tahun 2023 berdasarkan sistem penanggalan Masehi, 1 Muharram 1445 H bertepatan dengan tanggal 19 Juli 2023.

Malam 1 Muharram atau dalam kebudayaan Jawa dikenal dengan malam 1 Suro, dianggap sebagai malam yang keramat dan membawa sial.

Baca Juga: Ciri-ciri Atasan Toxic yang Bikin Tak Betah Kerja, Mending Resign?

Karena pada momen pergantian awal tahun tersebut, sejumlah masyarakat Jawa banyak yang mengisinya dengan menjalankan tradisi.

Bagi masyarakat di Solo, khususnya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, malam 1 Suro atau malam tahun baru hijriah diperingati dengan melakukan kirab pusaka.

Kata Suro dalam tradisi Jawa sendiri merupakan hasil serapan dari Bahasa Arab Asyuro yang memiliki arti Sepuluh.

Karena adanya perbedaan cara pengucapan antara lidah Bangsa Arab dengan Jawa, maka istilah Asyura kemudian dikenal dengan nama Suro.

Baca Juga: 15 Referensi Alasan Unik dan Penuh Motivasi Masuk SMP MOS 2023, Jika Ditanya Kakak OSIS

Dalam sistem penanggalan masyarakat Jawa, Bulan Suro dijadikan sebagai nama pertama dalam deretan bulan, sebagaimana Januari dalam Masehi.

Peringatan 1 Muharram atau 1 Suro, diawali dari semenjak waktu pergantian siang dengan malam atau setelah waktu Maghrib.

Bila pada tahun 2023 ini 1 Muharram bertepatan dengan tanggal 19 Juli 2023, maka malam 1 Suro atau malam 1 Muharram jatuh pada 18 Juli 2023 usai Maghrib.

Hal tersebut dikarenakan adanya kesamaan penentuan tanggal baru dalam kalender Hijriah dengan kalender Jawa.

Baca Juga: Viral! Reaksi Bule Amerika Mendengar Gaji Pekerja di Indonesia Bikin Shock, Netizen: Apa Kabar Gaji Guru?

Adanya anggapan yang menyebut bahwa malam 1 Suro atau malam tahun baru Muharram sebagai malam keramat dan membawa sial, KH Ahmad Muwafiq memberi tanggapan.

Menurut Gus Muwafiq, peristiwa keramat yang dilakukan masyarakat Jawa merupakan bentuk penghormatan atas tragedi terbunuhnya Cucu Rasulullah SAW.

Hal tersebut yang kemudian dijadikan sebagai acuan para pembawa Islam di Nusantara untuk tidak bersikap jumawa atau berlebih-lebihan.

Dengan mempertimbangkan bulan Suro sebagai bulan duka, maka tidak heran jika kemudian dilakukan tradisi bernuansa duka.

“Makanya orang Jawa kalau bulan Suro itu nggak mantu, karena menghormati bulan duka,” jelas Gus Muwafiq.

Baca Juga: Lady Nayoan Tak Hadir di Sidang Mediasi Perceraian, Rendy Kjaernett: Mohon Doa Usaha Perbaiki Rumah Tangga

Adanya sejumlah tradisi dan perayaan menyambut datangnya bulan Muharram atau Suro, juga ditanggapi Gus Muwafiq.

“Di Jogja keliling benteng tujuh kali tidak pakai ngomong, ini bulan duka sehingga tidak perlu banyak bicara,” imbuhnya.

Gus Muwafiq menjelaskan bahwa tradisi yang berlaku di masyarakat setiap menyambut bulan Muharram atau Suro merupakan ajaran budaya para pendahulu Islam di tanah Jawa.

“Ini ajaran para Wali awal, yang tidak paham menjelek-jelekkan,” pungkasnya seperti dikutip Ayojakarta pada Selasa, 18 Juli 2023 dari kanal YouTube Gus Muwafiq Channel. ***

Reporter Karseno AJ
Editor Jinan Vania Barizky