AYOJAKARTA.COM - Setelah lebaran, menjadi tradisi umat Islam untuk melakukan ziarah kubur.
Pada momen ini, umat Islam akan mendoakan kerabat atau keluarga yang sudah meninggal di kuburnya.
Ada beberapa tradisi ziarah kubur yang dianjurkan ulama dan yang tidak dianjurkan sebagaimana dijelaskan oleh Buya Yahya.
Tradisi menabur bunga di atas kubur saat melakukan ziarah dijelaskan memang tidak ada pada zaman Nabi.
"Menabur bunga itu tidak ada memang di aman nabi," jelas Buya Yahya dikutip melalui YouTube Zhafran Channel.
Buya Yahya menjelaskan yang ada pada zaman nabi yakni menancapkan pelepah kurma di atas kubur.
"Ada pada zaman nabi itu namanya, Al-Jaridah, pelepah kurma," jelas Buya Yahya.
Pada saat itu, Nabi melewati dua kubur yang mayatnya sedang disiksa, kemudian ditancapkan pelepah kurma.
Baca Juga: PENTING Buat PPPK 2023! Cara Akhiri Proses Pengisian DRH Agar Tak Gugur di Pemberkasan
"Nabi melewati dua kubur yang disiksa, kemudian pelepah kurma kemudian dibagi dua, kemudian Nabi menancapkan setiap kubur satu belahan," ungkap Buya Yahya
"Lalu Nabi mengatakan, 'semoga Allah meringankan siksa kepada dua mayat yang dikubur selagi dia belum kering'," sambungnya.
Maka diperbolehkan menancapkan pelepah kurma di atas kubur.
"Salah satu sahabat Nabi itu berwasiat, 'kalau aku mati nanti, tolong ambilkan pelepah kurma dan tancapkan agar Allah meringankan siksa'," jelas Buya Yahya.
Sebagaimana Buya Yahya menjelaskan bahwa semua makhluk hidup di bumi seperti tanaman dan hewan akan senantiasa bertasbih kepada Allah SWT.
"Ulama menjelaskan kalau seandainya kita meletakkan pelepah kurma itu sah-sah saja," jelas Buya Yahya.
"Karena apa? bukankah semua yang ada di bumi dari bebasahan dan yang lainnya juga bertasbih," tambahnya.
Maka apabila di atas kubur ada tanaman, maka ia akan bertasbih dan membuat tenang mayat di dalamnya.
"Sebab tasbihnya makhluk-makhluk itu menjadi tenang mayat, bertasbih," kata Buya Yahya.
Maka dianjurkan agar tidak mencabut rumput-rumput di atas kubur terlalu bersih.
"Sehingga rumput-rumput yang di atas kubur pun makruh untuk kita cabut, jangan terlalu bersih-bersih," jelas Buya Yahya.
"Biarkan ada rumput, dia akan bertasbih," sambungnya.
Kemudian tradisi berikutnya diperbolehkan menabur bunga sebagai makna yang sama seperti pelepah kurma.
"Kedua, bahwasanya, para ulama mengatakan, bunga-bunga itu kan sesuatu yang segar, maka itu punya makna sama dengan pelepah kurma tersebut," jelas Buya Yahya.
"Jangan anda teramat-amat membatasi rahmat Allah, kan ini ada bebasahan juga dari bunga," tambahnya.
Akan tetapi bunga-bunga yang ditabur juga tidak boleh mahal atau berlebihan.
"Ketiga, jangan berlebihan, jangan sampai harganya mahal, apalagi punya bunga-bunga di rumah sendiri, petik-petik sendiri," kata Buya Yahya.
Kemudian jangan meniru gaya orang kafir ketika melakukan tradisi ziarah kubur.
"Keempat, upayakan jangan sampai alam irama, meniru gaya orang kafir, itu hanya menabur bunga selesai," ujar Buya Yahya.
"Niatnya, semoga selagi bunga ini masih basah kalau ada dosa meringankan daripada siksanya (mayat dalam kubur tersebut)," sambungnya.
Tidak menggunakan taburan bunga pun sebetulnya tidak mengapa, cukup banyak berdoa juga diperbolehkan.
"Kalau ga pakai bunga ya gapapa, yang penting istighfarnya lancar, doanya yang banyak," jelas Buya Yahya.
Lalu Buya Yahya menegaskan agar tidak melakukan hal yang mubazir.
Ada beberapa tradisi yang dilakukan yakni menyimpan sesajen atau hadiah kubur seperti degan, telur dan menyimpan tikar.
Itu tidak dianjurkan, karena akan mubah atau mubazir.
"Cuma saya tidak senang kalau degan ditaruh di situ, kemudian tikarnya dikasih ke dalam," ungkap Buya Yahya.
"Jadi membawa barang berharga atau bernilai jangan taruh di kubur. Kalau diminum kan jadi pahala buat dia, kalau gitu kan mubazir nanti," sambungnya.***