AYOJAKARTA.COM---Salat dan dzikir (wirid) tentunya menjadi amalan satu paket penting bagi umat muslim, baik itu secara mandiri atau berjamaah.
Sebagaimana banyak dicontohkan dalam sunnah Nabi Muhammad SAW yang disampaikan oleh para ulama yang dapat kita terapkan dalam kehidupan.
Dikutip Ayojakarta.com melalui kanal YouTube 45 official, Gus Baha menyampaikan sunnah Nabi Muhammad SAW setelah shalat.
Dalam suatu riwayat mengisahkan bahwa Nabi Muhammad SAW ketika selesai memimpin salat, Rasulullah SAW menghadap makmum sebagai tanda salatnya sudah selesai.
Baca Juga: Inilah Waktu Terbaik untuk Tunaikan Salat Dhuha Lengkap dengan Bacaan Doanya Menurut Buya Yahya
Karena pada zaman Nabi Muhammad SAW, umatnya ada yang datang dengan sengaja menempuh jarak 7 kilo demi untuk salat berjamaah bersama Nabi.
"Nabi itu salat, makmumnya kadang kadang 7 kilo dari dalamnya Nabi. Andaikan Nabi masih berposisi menghadap kiblat, maka makmum yang baru datang itu mengira Nabi masih salat, padahal Nabi sudah tidak salat," ungkap Gus Baha.
"Maka untuk mengantisipasi itu, Nabi memaklumatkan diri, dengan perilakunya beliau menghadap makmum, supaya ada kepastian kalau beliau sudah selesai salat," sambungnya.
Baca Juga: Mbah Moen: Rezeki Mengalir Deras dengan Membaca Surat Paling Istimewa Al-Quran, Apa itu?
Hal yang menjadi penting bagi imam menurut Gus Baha adalah menunjukan tanda setelah salam jika salatnya sudah selesai, seperti membaca istighfar.
"Maka yang penting bagi imam itu, setelah selesai salam tunjukan kalau kamu selesai, ada yang astagfirullahaladzim, untuk menunjukan mulai wiridan ba'da salat," jelas Gus Baha.
Selain itu, Gus Baha pun menyampaikan bahwa diriwayatkan Nabi Muhammad salat hanya membaca istighfar tiga kali dan membaca doa singkat.
"Begitu juga beberapa kali Nabi salat itu hanya membaca istighfar tiga kali, ada yang Allahumma a'inni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik," ungkap Gus Baha.
Pada dasarnya islam itu tidak mempersulit dalam hal ibadah, menurut Gus Baha salat wajib tidak boleh lama, apalagi wirid (dzikir).
"Salat yang rukun saja lama gak boleh, apalagi wiridan, maksudnya bukan gak boleh, tapi ya pikirkan makmum," Ujar Gus Baha.
"Kalau semuanya nunggu (makmum menunggu imam) ini mewajibkan sesuatu yang tidak wajib," sambungnya.
Hal ini menyikapi toleransi jika dalam salat berjamaah ada makmum yang memang memiliki kesibukan namun menyempatkan untuk salat berjamaah.
Akan tetapi perihal dzikir yang lama atau pun pendek, semuanya adalah baik, pada intinya kita harus mengingat Allah di manapun dan kapanpun.***